Kaidah Mengkafirkan Pribadi

July 19, 2011 at 4:38 pm | Posted in aqidah, islam, jihadi | Leave a comment

Sebuah pengantar untuk mengenali lebih lanjut….

 

Pengantar

Sesungguhnya mengkafirkan merupakan salah satu syariat dalam islam. Bahkan mengkufurkan thoghut dan pelaku-pelaku kekafiran merupakan salah satu syarat agar syahadat sah. Allah berfirman dalam quran-Nya :

“Maka barang siapa yang kufur terhadap thoghut dan beriman kepada Alloh maka dia telah berpegang dengan tali yang sangat kuat.” (Al-Baqoroh: 256)

Syahadat yang pertama mengandung dua konsekuensi :

  • An-Nafyu artinya meniadakan peribadahan dari setiap apa yang diibadahi selain Alloh. Hal ini direalisasikan dengan meyakini batilnya beribadah kepada selain Alloh, meninggalkan peribadahan itu, membencinya, mengkafirkan pelakunya dan memusuhi mereka. Inilah yang dimaksud dengan mengkufuri thoghut. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
  • Dan al-Itsbat artinya menetapkan peribadahan hanya untuk Alloh semata, dengan mengarahkan semua bentuk peribadahan hanya kepada Alloh semata.

Syaikh Muhammad at-Tamimi dalam Risalah Ma’na Ath-Thoghut, telah menyebutkan lima jenis thoghut. Beliau menyebutkan tatacara mengkufuri thoghut (lihat Majmu’atut  tauhid 10, Al Jami’ Al fariid 308) : “Adapun tata cara kufur terhadap thaghut itu adalah engkau meyakini bathilnya ibadah kepada selain Allah, engkau meninggalkannya, membencinya, mengkafirkan pelakunya dan memusuhi mereka itu.”

Jadi sudah jelas bahwa mengkafirkan pelaku kekufuran adalah aqidah umat islam yang tidak boleh ditinggalkan jika kita mengaku sebagai pengikut salafus shalih, apalagi mengakui seruan dakwah najdiyyah dan menggembar-gemborkan diri sebagai pewaris dakwahnya.

 

 Mengkafirkan Harus Dengan Takwil

Dalam mengkafirkan terdapat dua macam takfir :

  1. Takfir Muthlaq : menghukumi perbuatan dan dalam hal ini hanya memperhatikan satu perkara saja yaitu penyebab kekafiran yaitu dengan terpenuhunya syarat untuk di anggap sebagai mukaffir dari sisi dalil syar inya dan dari sisi perbuatannya sendiri yang qoth’iyud dalaalah.
  2. Takfir Muayyan : menghukumi pelaku, dalam hal ini yang perlu dilihat adalah dua masalah; yaitu hukum perbuatan itu sendiri sebagaimana di atas dan melihat kepada keadaan pelakunya yang mencakup menetapkan perbuatan itu sendiri dan tidak terdapatnya maani’ul hukmi (penghalang vonis / hukum) pada orang tersebut.

Itulah dua jenis perbuatan yang disebut dengan takfir. Beberapa kalangan pada zaman ini hampir-hampir tidak memasukkan takfir terhadap orang murtad jenis tertentu karena ketidak-tahuan mereka dan juga mereka berdalil dengan hadits Rasulullah.

Rasulullah s.a.w bersabda : dari Abu Huroiroh ra bahwasanya Nabi SAW bersabda:

إذا قال الرجل لأخيه يا كافر فقد باء به أحدهما

Apabila seseorang mengatakan kepada saudaranya: Wahai orang kafir, maka perkataan itu akan menimpa salah satu dari keduanya.

Ulama menjelaskan tentang tepat guna dan penyalah gunaan dalam hadits ini sebagai berikut :

  1. Imam Bukhori meletakkan hadits ini dalam bab Man Kaffaro Akhoohu Bi Ghoiri Ta’wiilin Fahuwa Kamaa Qoola (Barang siapa mengkafirkan saudaranya bukan karena takwil maka ia sebagaimana yang ia katakan)
  2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah setelah menyitir hadits yang berbunyi: Janganlah kalian kalian kembali kafir sepeninggalku, yang mana sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain. Dan hadits yang berbunyi: Apabila seorang muslim mengatakan kepada saudaranya: Wahai orang kafir, maka perkataan tersebut akan menimpa kepada salah satu dari keduanya. Ia berkata: “Semua hadits tersebut terdapat di dalam Ash Shihaah, dan apabila seseorang melakukan peperangan atau mengkafirkan orang lain berdasarkan takwil maka ia tidak kafir lantaran perbuatannya tersebut, sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Umar bin Al Khothoob kepada Haathib bin Abiy Balta’ah: Wahai Rosululloh biarkan aku penggal leher orang munafiq ini. Dan Rosululloh SAW tidak mengkafirkan Haathib maupun ‘Umar, bahkan beliau memberikan kesaksian bahwa keduanya masuk jannah …” Majmuu’ Fataawaa (III/284)
  3. Ibnul Qoyyim rh mengatakan di dalam Zaadul Ma’aad, Fashlun Fil Isyaaroti Ilaa Maa Fii Fat-hi Makkata Minal Fiqhi (Pembahasan mengenai beberapa hukum fiqih yang dapat disimpulkan dari penaklukan kota Mekah): “Dan di dalamnya terdapat pelajaran bahwasanya apabila seseorang memvonis munafiq atau kafir kepada seorang muslim karena berdasarkan takwil atau karena marah dalam rangka membela Alloh, RosulNya dan diinNya, bukan karena hawa nafsu dan kepentingan dunia, maka sesungguhnya orang tersebut tidak menjadi kafir lantaran perbuatannya itu, bahkan ia tidak berdosa dan justru ia mendapat pahala karena niat dan tujuannya. Hal ini tidak sama dengan ahlul ahwaa’ wal bida’ (para pengikut hawa nafsu dan penganut bid’ah), karena sesungguhnya mereka itu mengkafirkan dan membid’ahkan orang karena ia tidak sesuai dengan hawa nafsu, kebid’ahan dan aliran mereka, dan mereka ini lebih layak (atas status bid’ah dan kafir) dari pada orang yang mereka kafirkan dan yang mereka bid’ahkan.” (III/423)
  4. Al Haafidh mengatakan di dalam Fat-hul Baariy, Kitaabush Sholaati (I/523) mengenai pelajaran yang dapat diambil dari hadits yang menceritakan orang yang mengatakan bahwa Maalik bin Ad Dakhsyan itu orang munafiq karena ia membela orang-orang munafiq: “… dan bahwasanya memvonis munafiq terhadap orang yang menunjukkan keislaman karena ada qoriinah (tanda-tanda) yang terdapat pada orang tersebut, hal ini tidak menyebabkan pelakunya kafir atau fasiq, akan tetapi ia dimaafkan karena melakukan takwil.”
  5. Syaikh ‘Abdur Rohmaan bin Hasan bin Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab di dalam Ad Duror As Sunniyyah (Juz Jihad, Halaman 132) mengatakan: “Seandainya ada seseorang dari kaum muslimin mengatakan kepada orang-orang yang berlumuran dengan hal-hal yang telah dinyatakan oleh para ulama’ sebagai kekafiran, berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah, karena ghiiroh (semangat membela) kepada Alloh dan karena membenci apa-apa yang dibenci oleh Alloh yaitu perbuatan-perbuatan tersebut, maka tidak diperbolehkan mengatakan mengenai orang tersebut: Barangsiapa mengkafirkan orang Islam maka ia kafir.(Dinukil dari Risalatul Jafr)

Jadi jangan sampai kita menjadi takut untuk mengkafirkan seseorang (dengan takwilan syar’i) karena salah mengerti dengan hadits ini. Karena melakukan takfir pelaku kekufuran merupakan syariat yang tidak terbantahkan dan ciri khas ahlus sunnah.

 

 Kaidah-kaidah Umum Mentakfir

Syaikh Abu Muhammad al-Maqdisi dan Syaikh Abdul Qodir bin Abdul Aziz, hafidhahumullah, sepakat dalam tulisan-tulisan mereka bahwasanya tata cara takfir muayyan (personal) adalah sebagai berikut :

1)      Melihat kepada sebab: yaitu hendaknya perkataan atau perbuatannya memenuhi dua syarat kekafiran, yaitu shoriihud dalaalah (jelas penunjuknya) dan kekafirannya dibuktikan oleh dalil syar’iy.

2)      Melihat kepada syarat: yaitu syarat yang berkaitan dengan pelaku, perbuatan dan pembuktian perbuatannya.

3)      Melihat kepada penghalang: yaitu pada pelaku, perbuatan maupun pembuktian perbuatannya.

4)      Memutuskan hukum: yaitu murtad, dan hal ini berkaitan dengan kelayakan orang yang memutuskan hukum untuk memutuskan hukum.

5)      Menyuruh bertaubat setelah di putuskan telah murtad, ini bagi yang maqduur ‘alaih (orang yang berada dalam kekuasaan Islam).

6)      Pelaksanaan hukuman: yaitu oleh penguasa darul Islam bagi yang maqduur ‘alaih, dan oleh semua orang bagi mumtani’.

Takfir Muayyan adalah sebuah penghukuman terhadap pribadi-pribadi tertentu. Akan tetapi dalam mentakfir, Syaikh Ali bin Khudhair al-Khudhair menyebutkan bahwasanya takfir bukan hak suatu jabatan tertentu. Namun perlu diingat, semua amalan di dalam Islam haruslah berdasarkan Ilmu.

Ibnul Qoyyim al-Jauziyah berkata: “Seorang mufti dan hakim tidak akan bisa berfatwa dan memutuskan perkara kecuali dengan memahami dua hal:

Pertama: memahami dan mengerti peristiwa dan menyimpulkan apa yang terjadi sebenarnya dari qoriinah-qoriinah, tanda-tanda dan indikasi-indikasinya sampai dia memahami betul peristiwa tersebut.

Yang kedua: Memahami hukum yang wajib diterapkan terhadap peristiwa tersebut. Yaitu memahami hukum Alloh yang Alloh tetapkan dalam kitabNya (Al Qur’an) atau Alloh tetapkan melalui lidah RosulNya mengenai peristiwa tersebut kemudian mengklopkan antara keduanya.

Maka barangsiapa telah mengerahkan segala kemampuannya untuk merealisasikannya maka dia pasti mendapatkan dua pahala atau satu pahala. Maka orang alim (ulama’) itu adalah orang yang dengan pengertian dan pemahamannya terhadap peristiwa dia gunakan untuk memahami hukum Alloh dan RosulNya.” (A’laamul Muwaqqi’iin I/87-88).

 

 Syarat-syarat dan Penghalang Dalam Takfir Muayyan

Dalam Majmu Fatawa X/215 disebutkan : Bahwasanya nash-nash wa’iid (ancaman) yang terdapat di dalam Al Qur’an dan Sunnah, juga pernyataan para ulama’ yang menyatakan kafir, fasiq dan lain-lain yang semacam itu, tidak selalu menimbulkan konsekuensi tertentu pada setiap orang kecuali apabila telah terpenuhi syarat-syaratnya dan tidak terdapat mawaani’ (hal-hal yang menghalanginya), hal itu tidak ada bedanya antara yang ushuul (masalah-masalah prinsip) maupun yang furuu’ (masalah-masalah cabang).

Abu Muhammad al-Maqdisi dalam Risalatul Jafr menyebutkan : “Syarat-Syarat Takfiir Itu Terbagi Menjadi Tiga Macam:

 Pertama: Syarat-syarat pada pelaku, yaitu hendaknya ia:

1-   mukallaf (baligh dan berakal)

2-   sengaja dalam melakukannya.

3-   Mukhtaar, dengan kemauannya sendiri.

Kedua: Syarat-syarat pada perbuatan (yang menjadi sebab atau ‘illah jatuhnya vonis kafir).

Intinya adalah hendaknya perbuatan tersebut merupakan mukaffir (penyebab kekafiran) dengan tanpa syubhat (samar), yaitu:

1-   Hendaknya perbuatan yang dilakukan oleh mukallaf tersebut shoriihud dalaalah ‘alal kufri (jelas-jelas menunjukkan kekafiran).

2-   Hendaknya dalil syar’iy yang menyatakan kafir terhadap perbuatan atau perkataan tersebut shoriihud dalaalah ‘alat takfiir (jelas-jelas mengkafirkan pelakunya).

Bagian ketiga: Syarat-syarat pada pembuktian perbuatan seorang mukallaf, dan hal ini harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan syar’iy dan secara benar, tidak berdasarkan sangkaan, perkiraan atau berdasarkan hal-hal yang masih mengandung kemungkinan atau yang meragukan. Dan hal itu dilakukan dengan:

–       Iqroor atau pengakuan.

–       Atau dengan bukti yang berupa: kesaksian dua orang yang ‘aadil (mempunyai sifat ‘adaalah / dapat dipercaya).” (dengan beberapa editan)

Adapun tentang penghalang atau mawaani’, Doktor Abdul Qodir bin Abdul Aziz menjelaskan sebagai berikut : Penghalang-penghalang yang menjadi syarat itu ada tiga macam (’awaaridlul ahliyyah, akan dijelaskan dibawah-ed):

  1. Penghalang-penghalang yang terdapat pada pelaku yaitu keadaannya yang menjadikan seseorang tidak bisa dihukumi perkataan dan perbuatannya secara syar’iy, dan penghalang penghalang ini di sebut sebagai ’awaaridlul ahliyyah (hal-hal yang menjadi penghalang kelayakan).
  2. Penghalang-penghalang yang terdapat pada perbuatan (yaitu hal-hal yang menjadi penyebab kekafiran) seperti perbuatannya itu tidak shoriihud dalaalah (jelas maksudnya) terhadap kekafiran atau dalilnya tidak qoth’iyyud dalaalah terhadap kekafiran.
  3. Penghalang-penghalang yang terdapat pada proses pembuktian hukum; seperti salah satu dari saksinya tidak bisa di terima kesaksiannya karena masih kecil atau tidak ‘aadil (tidak bisa di percaya)

Berkata Ibnul Qoyyim al-Jauziyah tentang syarat dan penghalang : “Dan diantara yang memperjelas masalah adalah bahwa manusia bersepakat bahwa syarat itu terbagi menjadi syarat yang harus ada dan syarat yang harus tidak ada. Dengan kata lain bahwa ada sesuatu yang keberadaannya menjadi syarat sebuah adanya hukum dan ada sesuatu yang tidakadanya menjadi syarat sebuah hukum. Dan ini disepakati oleh para ulama’ ahli ushul fikih, mutakallimiin dan semua kelompok. Oleh karena itu apa saja yang ketidakadaannya itu menjadi syarat maka keberadaannya menjadi penghalang (maani’). Dan apa saja yang keberadaannya merupakan syarat maka ketidakadaannya adalah penghalang (maani’). Dengan demikian maka tidak adanya syarat merupakan penghalang sebuah hukum dan tidak adanya penghalang merupakan syarat adanya sebuah hukum. wabillaahit taufiiq.”Badaa-i’ul Fawaa-id IV /12, terbitan Daarul Kitaab Al ‘Arobiy. (Dinukil dari al-Jami’, bab Iman dan Kufur)

 

Penjelasan Mengenai ’Awaaridlul Ahliyyah

Yang dimaksud ahliyyah di sini adalah Ahliyatul aadaa’; “yaitu kelayakan seseorang untuk dianggap perkataan dan perbuatannya secara syar’iy, dan syarat-syarat syah ahliyatul aadaa’ ini adalah berakal, baligh dan ikhtiyaar (bebas, tidak terpaksa)” Al-Jami’ bab Iman dan Kufur.

Awaridl Ahliyyah dibagi menjadi dua macam :

  1. Awaridl Samawiyyah adalah kebalikan dari syarat-syarat hukum seperti masih kecil kebalikan dari baligh, gila dan dungu kebalikan dari berakal. Dengan demikan, maka di antara syarat-syarat takfiirul mu’ayyan adalah berakal dan baligh.
  2. Awaridl Muktasabah, yaitu penghalang yang kemauan dan usaha manusia. Macam-macam penghalang muktasabah antara lain :
    1. Al-Khotho’ (tidak sengaja), dalilnya adalah : “Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) oleh hatimu.” (QS. Al Ahzaab: 5). Dalam sebuah hadits Rasulullah menyebutkan kisah yang di dalamnya terkandung perkataan : Ya Alloh Engkau hambaku dan aku adalah robbMu. Dan dalam hadits tersebut rosululloh mengatakan: Ia salah karena sangat senangnya. Hadits ini muttafaq ’alaih.
    2. Al-Khotho’ Fit Ta’wiil atau salah mentakwilkan, Dan dalilnya adalah kejadian Qudaamah bin Madz’uun, di dalamnya disebutkan bahwa Qudaamah menghalalkan khomer. Ibnu Taimiyyah mengatakan:  “.. atau ia salah, ia mengira bahwa orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dikecualikan dari pengharaman khomer, sebagaimana keslahan orang-orang yang dilakukan istitaabah  (disuruh taubat) oleh ‘Umar, dan orang-orang semacam mereka. Mereka dilakukan istitaabah (disuruh taubat) dan disampaikan hujjah kepada mereka lalu, jika mereka tetap dalam pendapat mereka, ketika itu mereka kafir. Dan mereka tidak divonis kafir sebelum dilakukan itu semua, sebagaiman para sahabat tidak mengkafirkan Qudaamah bin Madz’uun dan sahabat-sahabatnya karena mereka salah dalam mentakwilkan.” Majmuu’ Fataawaa VII / 610. Kesalahan dalam mentakawilkan yang diterima sebagai ‘udz-r adalah takwil yang timbul dari melihat dalil syar’iy namun dia salah dalam memahaminya. Sedangkan kesalahan takwil yang tidak dianggap sebagai ‘udz-r adalah yang timbul dari pemikiran belaka dan hawa nafsu tanpa menyandarkannya kepada dalil syar’iy. Sebagaimana penolakan iblis untuk sujud kepada Adam dan berhujjah bahwa dia; Aku lebih baik daripada Adam, Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan Adam dari tanah. Ini hanyalah pemikiran. Dan sebagaimana pentakwila-pentakwilan   Al Baathiniyyah yang menggugurkan kewajiban-kewajiban syar’iy, sesungguhnya ini hanyalah hawa nafsu.
    3. Al-Jahlu (kebodohan), dalilnya adalah firman Alloh: Dan Kami tidak akan meng`azab sampai Kami mengutus seorang Rosul. (QS. Al Isroo’:15). Syaikh Abdul Qodir menerangkan  bahwa kebodohan yang syah dianggap sebagai ‘udz-r dan penghalang vonis kafir adalah kebodohan yang tidak memungkinkan bagi seorang mukallaf untuk untuk menghilangkanya baik disebabkan oleh sebab-sebab yang ada pada dirinya atau sebab-sebabyang ada pada sumber ilmu sendiri. Jika ia mampu untuk belajar dan menhilangkan kebodohan pada dirinya namun ia meremehkannya maka dia tidak diterima ‘udz-r kebodohannya dan dia secara hukum dianggap orang yang tahu — sebagaiman hukumnya orang yang tahu — meskipun pada hakekatnya tidak tahu. Dikatakan oleh Al Quroofiy (684 H.): “Sesungguhnya setiap kebodohan yang memungkinkan bagi seorang mukallaf untuk menghidarinya, maka tidak diterima hujjah (alasan) nya jika dia tidak mengetahuinya.” Lihat Al Furuuq (IV/264) dan juga (II/149-151). Ibnu Hazm berkata: “Tidak diperselisihkan lagi bahwasanya jika ada seseorang masuk Islam — dan ia belum mengetahui syariat-syariat Islam — lalu ia meyakini bahwasanya khomer itu halal dan bahwasanya manusia itu tidak mempunyai kewajiban sholat, sedangkan dia belum mendengar hukum Alloh SWT mengenai masalah tersebut maka tidak diperselisihkan lagi bahwa orang tersebut tidak kafir, sampai disampaikan hujjah kepada orang tersebut kemudian ia tetap bersikukuh dengan pendiriannya, maka ketika itu ia kafir berdasarkan ijma’ (kesepakatan) umat.” Al Muhallaa (XIII)
    4. AlIkrooh atau dipaksa, dalilnya adalah : “Barangsiapa yang kafir kepada Alloh sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Alloh), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)” (QS.An Nah-l: 106). Syaikh Abdul Qodir menyebutkan syahnya keterpaksaan berbuat kufur, sebagai penghalang vonis kafir hendaknya ada ancaman untuk dibunuh atau dipotong anggota tubuhnya atau akan disiksa dengan siksaan yang keras terhadap mukallaf tersebut, ini adalah pendapat mayoritas ulama’ dan inilah pendapat yang kuat. para ulama’ telah menyebutkan beberapa syarat terwujudnya maani’ (penghalang) yang berupa ikrooh (dipaksa), di antaranya adalah (Lihat Fat-hul Baariy, Kitaabul Ikrooh):
  • Hendaknya mukrih (orang yang memaksa) mampu untuk melakukan apa yang ia ancamkan, sedangkan mukroh (orang yang dipaksa) tidak dapat menghindarkan diri darinya meskipun dengan melarikan diri.
  • Hendaknya mukroh (orang yang dipaksa) mempunyai perkiraan kuat bahwa seandainya ia menolak, mukrih (orang yang memaksa) tersebut akan melakukan apa yang ia ancamkan.
  • Tidak ada yang menunjukkan bahwa mukroh (orang yang dipaksa) melampaui batas, yaitu dengan cara melakukan atau mengucapkan sesuatu yang melebihi apa yang memungkinkan untuk menghindarkan dirinya dari siksaan tersebut.
  • Dan mereka (para ulama’) mensyaratkan hendaknya ancaman yang digunakan untuk memaksanya mengucapkan kata-kata kafir itu adalah sesuatu yang tidak sanggup ia tanggung. Dan mereka (para ulama’) memberi contoh dengan siksaan yang sangat keras, memotong anggota tubuh, membakar dengan api, membunuh dan hal-hal yang semacam itu .. hal itu karena peristiwa yang menjadi penyebab turunnya ayat yang memberikan udzur (maaf) kepada mukroh (orang yang dipaksa) yaitu peristiwa yang dialami oleh ‘Ammaar, ia tidak mengucapkan kata-kata (kafir) yang ia ucapkan tersebut kecuali setelah kedua orang tuanya dibunuh, tulang rusuknya patah dan ia disiksa dengan siksaan yang sangat keras dalam rangka taat kepada Alloh.
  • Dan mereka (para ulama’) mensyaratkan kepada mukroh (orang yang dipaksa) harus menunjukkan Islamnya jika paksaan tersebut telah hilang. Jika ia menampakkan keislamannya maka ia tetap Islam dan jika ia menampakkan kekafiran maka ia divonis kafir semenjak ia mengucapkan kata-kata kafir tersebut. (lihat Al Mughniy, Kitaabul Murtad, Pasal; dan barang siapa yang dipaksa melakukan kekafiran, karangan Ibnu Qudaamah).

 

 

Catatan Penting Dalam Kaidah Takfir

1. Tabayyun dan Istitaabah

Meskipun istitaabah itu arti asalnya adalah menyuruh bertaubat, dan hal ini tidak di lakukan kecuali setelah orang yang melakukan kekafiran itu di vonis kafir dan murtad sebagaimana yang akan kami jelaskan sebentar lagi insya Alloh. Namun sesungguhnya yang di maksud istitaabah itu juga di mencakup segala apa yang dilakukan sebelum menjatuhkan vonis, yaitu tabayyun mengenai syarat-syarat dan penghalang penghalang vonis. Dalam menerangkan hal ini Ibnu Taimiyyah berkata:” … atau ia keliru, ia kira bahwa orang-orang beriman dan beramal sholih itu dikecualikan dari pengharaman khomer sebagaimana orang-orang yang dilakukan istitaabah oleh ‘Umar dan orang-orang semacam mereka. Mereka dilakukan istitaabah dan disampaikan hujjah kepada mereka. Jika mereka tetap dalam kekafiran, maka ketika itu mereka kafir, dan mereka tidak divonis kafir sebelum dilakukan semua, sebagai mana para sahbat tidak menghukumi kafir terhadap Qudaamah bin Madz’uun dan sahabat-sahabatanya ketika mereka keliru dalam mentakwilkan.” Majmuu’ Fataawaa  VII/610.

2.      Tidak wajib dilakukan istitaabah terhadap mumtani’

Ibnu Taimiyyah berkata: “Orang yang mumtani’ tidak dilakukan padanya istitaabah, karena sesungguhnya yang dilakukan istitaabah itu hanyalah orang yang maqduur ‘alaih.Ash Shoorimul Masluul hal. 325-326.

Imtinaa’ (mumtani’) dalam syar’iy  ada dua macam, pertama; imtinaa’ ‘anil ‘amal bisy syarii’ah (menolak untuk melakasanakan syari’at) baik sebagian maupun secara keseluruhan, dan inilah yang banyak disebut oleh Ibnu Taimiyyah:

Kelompok mana saja yang menolak melaksanakan sebuah syari’at Islam….

Maksudnya adalah tidak mau melaksanakannya. Yang kedua; imtinaa’ ‘anil qudroh maksudnya adalah mempertahankan diri dari kekuasaan muslimin sehingga tidak bisa menahannya dan menghukumnya, dan tidak hubungan antar keduanya, kadang orang yang menolak atau melaksanakan syari’at itu berada di bawah kekuasaan kaum muslimin di negara Islam sebagaiman orang yang menolak melaksanakan sholat dan zakat, ia sendirian di dalam negara Islam. Maka harus dibedakan antara kedua macam imtinaa’. Sedangkan yang kami maksud dengan mumtani’ dalam perkataan kami tersebut adalah mempertahankan diri dari kekuasaan muslimin.” Al-Jami’ – Iman dan Kufur, Hal. 135 – 136.

*Maraji utama :

  1. Risalatul Jafr – Mewaspadai Sikap Ekstrim Dalam Mengkafirkan Orang Jilid 2, Terjemahan Abu Musa Ath-Thoyyaar
  2. Serial Al-Jami’ – Iman dan Kufur, Terjemahan  Abu Musa Ath-Thoyyaar

 

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

(luqman : 13)

–sksd–

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: