Apakah WTC 911 Misi Dajjal ? (Sebuah Bantahan Ringan Artikel Abisyakir)

November 24, 2010 at 6:55 am | Posted in aqidah, islam, jihadi, sejarah, umum | 14 Comments

Bantahan atas artikel :

wtc 911 dan misi dajjal (hilangkan tanda bintang)

worldofnand.blogspot.com

Insiden, atau lebih tepatnya lagi tragedi 11 September 2001 merupakan salah satu peristiwa besar dalam sejarah peradaban modern. Di dalamnya terdapat berbagai kontroversi yang sangat tajam dan seringkali diperdebatkan. Di sisi lain banyak kalangan mengeluarkan analisisnya tentang kejadian ini yang menyebutkan bahwa kejadian ini hanyalah akal-akalan AS dan zionisme untuk melakukan penghalalan atas penjajahan berkelanjutan bagi negara-negara muslim. Sementara di sisi lain mereka-mereka yang dipertempuran berpendapat bahwa dalang 11 September ini sudah jelas sekali adalah al-Qaidah.

Polemik-polemik dan teori konspirasi tersebut sudah banyak diangkat di media-media massa. Sementara itu umat Islam pun terpecah menjadi berbagai madzhab dalam menyikapi hal ini. Setidaknya di kalangan juru dakwah terjadi dua arus besar dalam menanggapi peristiwa ini.

1.       Arus Pertama, yakni arus yang meyakini bahwa memang WTC diledakkan oleh the magnificent 19 yang merupakan anggota jaringan al-Qaidah. Arus pertama meyakini bahwa peristiwa ini merupakan rahmat Allah dan kemuliaan-Nya yang ditunjukkan untuk membuka kedok kejahatan dan kezaliman Amerika Serikat.

2.       Arus Kedua, yakni arus yang meyakini bahwa peledakan WTC didalangi oleh AS dan zionisme itu sendiri. Dengan data-data yang mereka percayai, arus ini (meskipun penulis tidak pernah mengetahui secara kuantitas, rumus-rumus dan lain-lain) menganggap bahwa semua ini adalah konspirasi tingkat tinggi AS untuk menjajah negeri-negeri muslim. Bahkan tidak sering diantara mereka melampaui batas dengan menuduh Syaikh Usamah bin Ladin dan al-Qaidah sebagai bagian dari agenda konspirasi tersebut. Wallahu a’lam, hawa nafsu mana yang membuat mereka berpendirian seperti ini.

Beberapa hari yang lalu seorang penulis dan da’I ternama dari Bandung, yang populer dengan nama penanya Abi Syakir, me-review kembali polemik ini dalam sebuah risalah singkat yang panjangnya kurang lebih lima halaman[1]. Dalam karangan tersebut sang ustadz mengingatkan kembali akan permasalahan 911, yang didalamnya mencakup peringatan bahwa peristiwa tersebut merupakan karangan dan konspirasi George Bush, Jr semata. Bahkan tidak ketinggalan didalamnya sikap ghuluw sang ustadz dalam menganut teori konspirasi, yaitu turut serta memasukkan tandhim al-Qoidah dengan Usamah bin Ladinnya sebagai salah satu aktor dari konspirasi tersebut.

Sesungguhnya agenda “war on terror” yang dilancarkan George Bush –laknatullah ‘alaihi wa ashabihi- adalah ditujukan untuk memerangi kebangkitan Islam. Oleh karena itu dia pernah keceplosan memakai istilah Crusade. Untuk menggulirkan agenda perang terlaknat itu, mereka membutuhkan pendukung dari kaum Muslimin. Pendukung itu bersifat PROTAGONIS (seide dengan mereka) dan ANTAGONIS (lawan mereka). Kalau hanya protagonis saja, agenda itu tidak akan berjalan. Selain ada kaum Muslimin yang mendukung agenda George Bush, juga harus ada yang beperan melawan George Bush. Salafi Rabi’iyun mendukung ide George Bush, sementara Salafi Al Qa’idah menjadi lawan George Bush. Akhirnya, panggung dunia pun dipenuhi oleh “war on terror”. Persis seperti film kartun Tom & Jerry.(Abisyakir)

Begitulah statemen sang da’I kepada salah satu pejuang Islam abad ini. Sebenarnya sah-sah saja dan bukan kesalahan yang besar jika mereka memilih menganut teori konspirasi dalam menyikapi peristiwa WTC ini. Namun menjadi hal yang fatal jika sang Ustadz dan kalangan yang sependapat dengannya menbgatakan bahwa Syaikh Usamah bin Ladin adalah penglaris drama war on terror -nya Bush dan sekutu-sekutunya dari kalangan kafir asli maupun kafir murtad.

Memang menjadi sebuah kesulitan bagi mujahidin untuk melukiskan keadaan mereka di medan jihad. Apalagi jika yang berada di hadapan mereka adalah orang-orang yang dengki, jahil lagi bertaklid. Kedengkian tersebut sudah sedemikian mendalam. Kebencian mereka terhadap mujahidin yang bertauhid dengan sebenar-benarnya lebih mereka dahulukan daripada mengkaji ulang pendapat-pendapat mereka dimata para ulama yang shahih lagi dipercaya.

Latar Belakang Abisyakir

Untuk memahami lebih jauh mengapa sang ustadz sedemikian tidak adilnya terhadap para mujahidin, ada baiknya pembaca mengetahui sedikit latar belakang sang Ustadz.

Joko Waskito, begitu nama asli beliau. Beliau memiliki beberapa nama pena, antara lain : Abi Syakir, Abu Muhammad (AM) Waskito, dan Abu Abdurrahman ath-Thalibi. Beliau adalah salah satu mantan aktivis Jamaah Tarbiyah, atau lebih diasosiasikan sebagai Ikhwanul Muslimin-nya Indonesia dan bentuk politiknya antara lain Partai Keadilan (PK) dan reinkarnasinya yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Hanya saja beliau adalah seorang thullab yang tidak merasa puas begitu saja. Beliau adalah seorang aktivis yang juga sering melahap dan mengkaji dakwah “salafy”, terutama dakwah salafy yang beliau anggap sebagai salafy Haraky, dengan ormas-ormas seperti al-Sofwa, Jamaah Ihyau Turats, dan yang sejenisnya.

Penulis sendiri semasa SMA (sebelum banyak mengenal dakwah Taujih-Tauhid dan Jihad), sangat menggandrungi karangan beliau yang berjudul Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak. DSDB adalah sebuah buku yang banyak membantah ekstrimisme dan ghuluw salafy (terutama mereka yang eks-Laskar Jihad) dari sudut pandang akhlak dan manhaj dakwah. Sayang sekali, buku ini tidak mengkaji kesesatan jamaah pengaku salafy dari sudut pandang aqidah mereka yang menyimpang dari ahlus sunnah.

Bisa dibilang, beliau adalah salah satu da’I yang menempuh manhaj baina al-Banna wa Albani. Mengingat begitu getolnya beliau membela para da’I-da’I yang terzalimi oleh kalangan salafy yamani dengan tahdzir-tahdzir mereka. Beliau juga sangat getol menasihati mereka-mereka yang berpolitik praktis, terutama dari saudara-saudara beliau dari kalangan PKS, hingga tidak sering beliau menjadi orang yang dianggap sebagai pengkhianat dari kalangan Jamaah Tarbiyah. Hanya saja kehebatan dan ketulusan beliau di bidang ini tidak membuat sang Ustadz ini termasuk dari kalangan orang-orang yang paham akan pentingnya dakwah Taujih. Bahkan beliau masih terperangkap dalam kebodohan yang sama dengan muqallid lain, baik dari kalangan muqallid al-Banna (IM), maupun muqallid Albani (salafy). Yakni kebodohan dalam menjelek-jelekkan mujahidin, sungguh hal yang tidak pernah penulis duga sebelumnya.

Fatwa-fatwa Yang Berkaitan Dengan Mencela Mujahidin

Ustadz Abisyakir (selanjutnya disingkat AS) saat ini bisa dibilang adalah seorang qa’idun, dan hal ini menyebabkan beliau adalah seorang yang bodoh dan termasuk orang yang tidak boleh berfatwa apapun mengenai kondisi jihad, apalagi mencela mujahidin. Bahkan status orang yang duduk-duduk tidak berperang telah dinyatakan dalam al-Qur’an :

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar (QS An-Nisaa’ : 95)

Bahkan kebodohan AS kelihatan nampak sekali pada komentarnya sendiri atas artikel tersebut yang berbunyi : Kalau soal jihad di Iraq dan Afghan, serta daerah-daerah lain, Anda jangan sekali-kali melupakan keterlibatan orang-orang beriman dari seluruh dunia disana. Lihatlah perjuangan Thaliban di Pakistan. Mereka lebih suka memakai nama Thaliban, bukan Al Qa’idah. Karena mereka tahu dimana kejujuran dan amanah itu.” Terlihat sekali bahwasanya ustadz AS mendefinisikan secara dualis antara al-Qaidah dan Thaliban. Sudah masyhur sekali bahwa meskipun Thaliban (nama sebuah Imarah Islam lokal) dan al-Qaidah (nama sebuah tandhim Jihad internasional) adalah hal yang berbeda dan memiliki sejarah berbeda, akan tetapi keduanya saling cinta-mencintai, bahu membahu dan dukung mendukung. Hanya orang bodoh akan waqi’ saja yang mengatakan bahwa thaliban dan al-Qaidah saling berlepas diri.

Perlu diketahui bahwa mujahidin beserta pendukungnya dari da’I-da’I taujih berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Jadi bukan berarti agenda dan propaganda jihad global ini semata-mata kerjaan al-Qaidah semata. Di dalamnya terdapat duat dan aktivis salafy asal Saudi, jebolan Ikhwanul Muslimin dari Mesir dan Syam, mantan NII dari Nusantara, dan bahkan da’i-da’I al-Muhajirun yang dimotori oleh mantan aktivis HT, yakni syaikh Omar Bakri Muhammad. Mereka semua adalah pejuang-pejuang ahlus sunnah yang siap berjuang dalam rangkaian Jihad Global dan berlepas diri dari kompromi, istihsan terhadap berbagai kebatilan dalam perjuangan Islam.

Dalam an-Nihayah wal Khulashah, syaikh Abdullah Azzam mengutip fatwa Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah berpendapat bahwasanya tidak boleh dimintai fatwa dalam masalah jihad kecuali para ulama’ yang berada di bumi jihad .. tidak boleh dimintai fatwa dalam masalah jihad kecuali para ulama’ yang memahami kondisi jihad dan berada dalam medan jihad. Ibnu Taimiyah berkata: “Seharusnya yang diterima pendapatnya dalam perkara-perkara jihad adalah pendapat orang yang memiliki agama yang lurus, yang memiliki pemahaman mengenai kondisi ahli dunia, bukan orang yang hanya memahami teori-teori agama.”

Ibnu Taimiyah mengharuskan kita untuk mengambil fatwa dalam masalah jihad dari orang yang memenuhi dua syarat:

1.       hendaknya ia terjun dalam peperangan dan mengerti apa-apa yang dibutuhkan dalam peperangan, memahami kondisi ahli dunia.

2.       hendaknya dia adalah termasuk ulama’ yang terkenal, artinya dia adalah orang yang memiliki agama yang lurus.

Apabila salah satu dari dua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka ia tidak boleh dimintai fatwa dalam masalah jihad. Dan berapa banyak dari kalangan ulama’ kita, para syaikh kita dan orang-orang yang kita hormati sebagaimana orang tua kita, mereka dimintai fatwa dalam masalah jihad di Afghanista kemudian mereka memberikan fatwa agar tidak berangkat jihad di Afghanistan. Namun setelah mereka mengetahui kenyataan jihad Afghanistan mereka mencabut kembali fatwanya [2].

Memang, mujahidin bukanlah manusia yang ma’shum. Di dalam pengambilan keputusan seringkali mereka mendapatkan kesalahan. Sedangkan mereka adalah orang alim dibidangnya. Sehingga bukan hal yang benar jika mengungkit-ungkit kesalahan mereka, mencela mereka, menetapkan baro’ terhadap mereka, sedangkan kebanyakan duat pencela itu adalah al-Qo’idun, yakni orang yang duduk-duduk.

Barangkali mereka para pencela sekalipun belum pernah menginjakkan kaki di bumi tadrib, namun sudah sedemikian beraninya mereka berfatwa yang tidak-tidak kepada mujahidin. Syaikh Abdul Aziz al-Julayyil, seorang ulama yang pernah dibuikan oleh pemerintahan Saudi berfatwa : Kesalahan yang dilakukan oleh sebagian mujahidin tidak berarti bahwa jihad adalah sebuah kesalahan, dan menasihati mereka haruslah disertai Wala’ (Loyalitas, Kecintaan) kepada mereka, sehingga tidak terbuka celah bagi “ Para penolak “ untuk mengingkari Jihad.[3]

Perbuatan mencela mujahidin ini merupakan hal yang sangat dahsyat akibatnya bagi umat. Mereka-mereka yang awam akan bingung. Dan ketika tiba saatnya bagi kaum muslimin untuk menentukan loyalitas, mereka-mereka yang awam akan menghindar dari jihad dan memilih jalan lain.

Demi Allah, Gedung WTC Tidak Akan Hancur Hanya Ditabrak Oleh Sebuah Pesawat

Ustadz AS bersumpah dengan nama Allah tentang pernyataan ini. Namun siapa yang bisa menghalangi kehendak Allah ? Apakah pengetahuan mereka tentang teknologi membuat mereka lupa akan kebesaran Allah ? Sungguh mereka semua telah melupakan bahwa rahmat dan kebesaran Allah akan dating kepada mereka-mereka yang mau berusaha dan bersungguh-sungguh, terutama dalam jihad qital fii sabilillah.

Syaikh Omar Bakri Muhammad, pimpinan Jamaah al-Muhajirun, ketika ditanya tentang hancurnya WTC, beliau menjawab bahwasanya WTC adalah ayat-ayat Allah yang ditunjukkan lewat perantara magnificent 19 yang secara akal memang tidak memungkinkan untuk menghancurkan berhala ekonomi dunia tersebut. Setidaknya beliau menyebutkan tanda-tanda kebesaran Allah dalam peledakan WTC sebagai berikut :

1.       Sekelompok Kecil Mengalahkan Kelompok Besar

2.       Semua perhitungan dan pertahanan mereka gagal, karena Allah mengirim orang-orang dengan suatu cara yang mereka tidak sangka-sangka

3.       Kita tidak membunuh, tetapi Allahlah yang membunuh

4.       Akan ada orang-orang yang mengorbankan dirinya hanya semata-mata karena Allah

5.       Allah memberikan kemenangan dengan cara mencampakkan ketakutan dalam hati musuh

6. Bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mendatangkan kemudharatan, kecuali apa yang telah Allah tetapkan[4]

Peledakan WTC merupakan karamah abad ini, karena sifatnya yang tidak masuk diakal, terutama penganut teori konspirasi[5]. Seperti halnya sifat karamah yang lain, manusia tidak mampu secara sengaja untuk mengulangi peristiwa WTC ini. Oleh karena itu gugurlah syubhat dari penganut teori konspirasi yang mengatakan bahwa jika Usamah benar-benar mendalangi peristiwa ini maka Usamah bisa melakukannya berulang kali.

Dan satu hal lagi yang perlu diketahui bahwasanya kondisi tadrib para operator serangan sama sekali tidak diketahui oleh para penganut teori konspirasi ini. Sehingga apa yang terjadi pada operator serangan sama sekali tidak diketahui oleh penuduh-penuduh mujahidin, apalagi para keroco-keroco yang sama sekali belum pernah memegang peralatan tempur.

Terorisme dan Takfir Bukan Ajaran Islam ?

Ustadz AS dalam statemen selanjutnya mengatakan bahwa mujahidin (dalam hal ini al-Qaida dan pendukung-pendukungnya) adalah teroris yang doyan takfir, dan nafsu takfir mereka hamper senada dengan nafsu tahdzir kalangan salafy yamani. Entah apa yang ada dibenak ustadz yang satu ini. Takfir memang salah satu tabiat dan konsekuensi yang merupakan persamaan antara pecahan Khawarij dengan ahlus sunnah. Namun persamaan ini bukan berarti mengesampingkan takfir. Sebab takfir ahlus sunnah berbeda dengan takfir khawarij.

Takfir atau pengkafiran adalah termasuk dari bagian syariat Islam yang maha sempurna. Takfir merupakan manhaj salaf yang diintisarikan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka kita wajib memuliakannya dan mendudukan pada kedudukan yang sebenarnya dan haram melecehkannya. Hari ini terdapat manusia yang kurang ilmu dan adab menjadikan takfir sebagai senda gurau sampai muncul istilah paham takfiriy untuk mengejek kelompok yang berani mengkafirkan. Dalam menyikapi takfir, manusia terbagi menjadi tiga golongan:

  1. Golongan yang bersikap ifrath (berlebih-lebihan) dan melampaui batas seperti khawarij.
  2. Golongan yang bersikap tafrith (mengurang-ngurangkan) dan sembrono seperti murji’ah, khususnya ghulatnya (ekstrimnya).
  3. Golongan yang bersikap wasath dan i’tidal (pertengahan, tidak ifrath dan tafrith) yakni golongan Ahli Sunnah wal Jamaah.[6]

Sehingga takfir merupakan hal yang harus dipahami oleh setiap kaum muslimin. Bahkan Ibnu Taimiyah memvonis kafir mereka para murjiah yang malampaui batas[7].

Sedangkan mereka yang menuduh terorisme bukanlah bagian dari jihad, maka Syaikh Abdul Qodir bin Abdul Aziz menyatakan dengan jelas, bahwa irhab merupakan hal yang diwajibkan dalam syariat Islam, dan tidak boleh seorang muslim mengingkari syariat tersebut. Sebagaimana dalam firman Allah berikut ini :

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).(QS Al-Anfal 60)

syekh mujaheed

Bahkan Syaikh Abdullah Azzam sendiri (dengan latar belakang “cinta damai” ala ikhwanul muslimin beliau) berkata : Nyatakan kepada orang kafir dan salibis, bahwa kami adalah teroris, karena teror itu adalah sebuah kewajiban yang tercantum dalam Kitabullah. Dunia timur dan barat harus tahu bahwa kita adalah teroris dan ekstrim[8]. Lantas bagaimana ustadz AS dengan santainya mengatakan demikian: Andaikan Usamah benar-benar seorang mujahid Islam sejati; dia pasti akan terbunuh seperti Dr. Abdullah Azzam, Syaikh Ahmad Yasin, Yahya Ayash, Jendral Khatab, dan lainnya.

Khatimah

Setidaknya dari tulisan diatas dapat membantu para pembaca untuk meluruskan pemahaman yang terjadi. Bantahan ini memang cukup ringan. Penulis merasa hanya mencukupkan diri untuk membantah perkataan batil kepada mujahid-mujahid umat ini dengan risalah kecil ini dikarenakan karena keterbatasan penulis. Dan penulis merasa dengan hal tersebut mengakibatkan hanya sampai di sini saja penulis menyampaikan kutipan-kutipan ini dan tidak perlu melanjutkannya lebih jauh.

Untuk memahami lebih jauh bagaimana aqidah para mujahidin al-Qaida dan penyokongnya, hendaknya para pembaca merujuk langsung ke karangan ulama-ulama berikut ini :

1.       Abdul Qodir bin Abdul Aziz

2.       Abu Muhammad Ashim al-Maqdisi

3.       Usamah bin Ladin

4.       Abdullah Azzam

5.       Abu Bashir at-Tarthusi

6.       Abu Qotadah al-Filisthini

7.     Dan lain-lain

Setidaknya karya para ulama-ulama tersebut dapat menjadi pembanding, manakah nukilan-nukilan jujur yang berdasar dan berdalil. Sehingga dengan izin dari Allah para pencari kebenaran dapat menilai sendiri mana aqidah Ahlus Sunnah, Khawarij atau Murjiah.[sksd]

———————————————————————————————————

catatan kaki :

1.  http://abisyakir.wordpress.com/2010/11/20/%e2%80%9cwtc-911%e2%80%9d-dan-missi-dajjal/

2.  An-Nihayah wal Khulashah, Syaikh Abdullah Azzam

3.  kutipan fatwa syaikh al-Julayyil, http://anshoruttauhid.blogspot.com/2009/02/tahdzir-memvonismenghukumi-terhadap.html

4.  wawancara Syaikh OBM tentang 11 September, http://arrahmah.com/index.php/blog/read/9101/wawancara-eksklusif-syekh-umar-bakri-muhammad-ayat-ayat-allah-dalam-peristi

5. Diadaptasi dari Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari, Al-Wajiiz fii Aqiidatis Salafis Shaalih (Ahlis Sunnah wal Jama’ah), atau Intisari Aqidah Ahlus Sunah wal Jama’ah), terj. Farid bin Muhammad Bathathy(Pustaka Imam Syafi’i, cet.I), hlm.173 -181, dikutip dari http://alislamu.com/index.php?Itemid=4&id=762&option=com_content&task=view

6. Risalah Tadzkirah Untuk Para Ulama, Ustadz Ali Ghufran at-Tinjuluny

7. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan,” Kalaulah ada sebuah kaum yang mengatakan kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa salam,” Kami mengimani apa yang Anda bawa dengan hati kami tanpa sedikitpun keraguan, dan lisan kami mengucapkan dua kalimat syahadat, namun kami tidak mau mentaati sedikitpun perintah Anda dan larangan Anda, kami tidak akan sholat, tidak akan  shaum, tidak akan menunaikan haji, tidak akan berbicara dengan jujur, tidak akan menunaikan amanat, tidak akan menepati janji, tidak akan menyambung silaturahmi dan tidak akan mengerjakan sedikitpun kebajikan yang Anda ajarkan, kami akan minum khamr, kami akan menikahi mahram kami dengan perzinaan yang terang-terangan, kami akan membunuh para shahabat dan umat Anda yang sanggup kami bunuh, kami akan merampas harta mereka, bahkan kami akan membunuh Anda dan kami akan berperang di pihak musuh Anda.” Apakah orang yang waras bisa membayangkan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa salam akan  mengatakan kepada mereka,” Kalian adalah orang-orang beriman yang imannya sempurna, kalian akan mendapat syafa’atku pada hari kiamat nanti, semoga tak seorangpun di antara kalian yang masuk neraka !!!” Pasti, setiap muslim secara otomatis mengetahui bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa salam akan mengatakan kepada mereka,”Kalian adalah orang yang paling kafir terhadap ajaranku.” Beliau akan memenggal leher-leher mereka, jika mereka tidak mau bertaubat dari hal itu. [Majmu’ Fatawa 7/287], diambil dari buku Koreksi atas Buku Qaulul Qath’i, karya Syaikh Abdul Qodir bin Abdul Aziz

8. Komando Al-Qaidah atas Perang Salib, anonim

Insiden, atau lebih tepatnya lagi tragedi 11 September 2001 merupakan salah satu peristiwa besar dalam sejarah peradaban modern. Di dalamnya terdapat berbagai kontroversi yang sangat tajam dan seringkali diperdebatkan. Di sisi lain banyak kalangan mengeluarkan analisisnya tentang kejadian ini yang menyebutkan bahwa kejadian ini hanyalah akal-akalan AS dan zionisme untuk melakukan penghalalan atas penjajahan berkelanjutan bagi negara-negara muslim. Sementara di sisi lain mereka-mereka yang dipertempuran berpendapat bahwa dalang 11 September ini sudah jelas sekali adalah al-Qaidah.

Polemik-polemik dan teori konspirasi tersebut sudah banyak diangkat di media-media massa. Sementara itu umat Islam pun terpecah menjadi berbagai madzhab dalam menyikapi hal ini. Setidaknya di kalangan juru dakwah terjadi dua arus besar dalam menanggapi peristiwa ini.

1. Arus Pertama, yakni arus yang meyakini bahwa memang WTC diledakkan oleh the magnificent 19 yang merupakan anggota jaringan al-Qaidah. Arus pertama meyakini bahwa peristiwa ini merupakan rahmat Allah dan kemuliaan-Nya yang ditunjukkan untuk membuka kedok kejahatan dan kezaliman Amerika Serikat.

2. Arus Kedua, yakni arus yang meyakini bahwa peledakan WTC didalangi oleh AS dan zionisme itu sendiri. Dengan data-data yang mereka percayai, arus ini (meskipun penulis tidak pernah mengetahui secara kuantitas, rumus-rumus dan lain-lain) menganggap bahwa semua ini adalah konspirasi tingkat tinggi AS untuk menjajah negeri-negeri muslim. Bahkan tidak sering diantara mereka melampaui batas dengan menuduh Syaikh Usamah bin Ladin dan al-Qaidah sebagai bagian dari agenda konspirasi tersebut. Wallahu a’lam, hawa nafsu mana yang membuat mereka berpendirian seperti ini.

Beberapa hari yang lalu seorang penulis dan da’I ternama dari Bandung, yang populer dengan nama penanya Abi Syakir, me-review kembali polemik ini dalam sebuah risalah singkat yang panjangnya kurang lebih lima halaman[1]. Dalam karangan tersebut sang ustadz mengingatkan kembali akan permasalahan 911, yang didalamnya mencakup peringatan bahwa peristiwa tersebut merupakan karangan dan konspirasi George Bush, Jr semata. Bahkan tidak ketinggalan didalamnya sikap ghuluw sang ustadz dalam menganut teori konspirasi, yaitu turut serta memasukkan tandhim al-Qoidah dengan Usamah bin Ladinnya sebagai salah satu aktor dari konspirasi tersebut.

Sesungguhnya agenda “war on terror” yang dilancarkan George Bush –laknatullah ‘alaihi wa ashabihi- adalah ditujukan untuk memerangi kebangkitan Islam. Oleh karena itu dia pernah keceplosan memakai istilah Crusade. Untuk menggulirkan agenda perang terlaknat itu, mereka membutuhkan pendukung dari kaum Muslimin. Pendukung itu bersifat PROTAGONIS (seide dengan mereka) dan ANTAGONIS (lawan mereka). Kalau hanya protagonis saja, agenda itu tidak akan berjalan. Selain ada kaum Muslimin yang mendukung agenda George Bush, juga harus ada yang beperan melawan George Bush. Salafi Rabi’iyun mendukung ide George Bush, sementara Salafi Al Qa’idah menjadi lawan George Bush. Akhirnya, panggung dunia pun dipenuhi oleh “war on terror”. Persis seperti film kartun Tom & Jerry.(Abisyakir)

Begitulah statemen sang da’I kepada salah satu pejuang Islam abad ini. Sebenarnya sah-sah saja dan bukan kesalahan yang besar jika mereka memilih menganut teori konspirasi dalam menyikapi peristiwa WTC ini. Namun menjadi hal yang fatal jika sang Ustadz dan kalangan yang sependapat dengannya menbgatakan bahwa Syaikh Usamah bin Ladin adalah penglaris drama war on terror -nya Bush dan sekutu-sekutunya dari kalangan kafir asli maupun kafir murtad.

Memang menjadi sebuah kesulitan bagi mujahidin untuk melukiskan keadaan mereka di medan jihad. Apalagi jika yang berada di hadapan mereka adalah orang-orang yang dengki, jahil lagi bertaklid. Kedengkian tersebut sudah sedemikian mendalam. Kebencian mereka terhadap mujahidin yang bertauhid dengan sebenar-benarnya lebih mereka dahulukan daripada mengkaji ulang pendapat-pendapat mereka dimata para ulama yang shahih lagi dipercaya.

Latar Belakang Abisyakir

Untuk memahami lebih jauh mengapa sang ustadz sedemikian tidak adilnya terhadap para mujahidin, ada baiknya pembaca mengetahui sedikit latar belakang sang Ustadz.

Joko Waskito, begitu nama asli beliau. Beliau memiliki beberapa nama pena, antara lain : Abi Syakir, Abu Muhammad (AM) Waskito, dan Abu Abdurrahman ath-Thalibi. Beliau adalah salah satu mantan aktivis Jamaah Tarbiyah, atau lebih diasosiasikan sebagai Ikhwanul Muslimin-nya Indonesia dan bentuk politiknya antara lain Partai Keadilan (PK) dan reinkarnasinya yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Hanya saja beliau adalah seorang thullab yang tidak merasa puas begitu saja. Beliau adalah seorang aktivis yang juga sering melahap dan mengkaji dakwah “salafy”, terutama dakwah salafy yang beliau anggap sebagai salafy Haraky, dengan ormas-ormas seperti al-Sofwa, Jamaah Ihyau Turats, dan yang sejenisnya.

Penulis sendiri semasa SMA (sebelum banyak mengenal dakwah Taujih-Tauhid dan Jihad), sangat menggandrungi karangan beliau yang berjudul Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak. DSDB adalah sebuah buku yang banyak membantah ekstrimisme dan ghuluw salafy (terutama mereka yang eks-Laskar Jihad) dari sudut pandang akhlak dan manhaj dakwah. Sayang sekali, buku ini tidak mengkaji kesesatan jamaah pengaku salafy dari sudut pandang aqidah mereka yang menyimpang dari ahlus sunnah.

Bisa dibilang, beliau adalah salah satu da’I yang menempuh manhaj baina al-Banna wa Albani. Mengingat begitu getolnya beliau membela para da’I-da’I yang terzalimi oleh kalangan salafy yamani dengan tahdzir-tahdzir mereka. Beliau juga sangat getol menasihati mereka-mereka yang berpolitik praktis, terutama dari saudara-saudara beliau dari kalangan PKS, hingga tidak sering beliau menjadi orang yang dianggap sebagai pengkhianat dari kalangan Jamaah Tarbiyah. Hanya saja kehebatan dan ketulusan beliau di bidang ini tidak membuat sang Ustadz ini termasuk dari kalangan orang-orang yang paham akan pentingnya dakwah Taujih. Bahkan beliau masih terperangkap dalam kebodohan yang sama dengan muqallid lain, baik dari kalangan muqallid al-Banna (IM), maupun muqallid Albani (salafy). Yakni kebodohan dalam menjelek-jelekkan mujahidin, sungguh hal yang tidak pernah penulis duga sebelumnya.

Fatwa-fatwa Yang Berkaitan Dengan Mencela Mujahidin

Ustadz Abisyakir (selanjutnya disingkat AS) saat ini bisa dibilang adalah seorang qa’idun, dan hal ini menyebabkan beliau adalah seorang yang bodoh dan termasuk orang yang tidak boleh berfatwa apapun mengenai kondisi jihad, apalagi mencela mujahidin. Bahkan status orang yang duduk-duduk tidak berperang telah dinyatakan dalam al-Qur’an :

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar (QS An-Nisaa’ : 95)

Bahkan kebodohan AS kelihatan nampak sekali pada komentarnya sendiri atas artikel tersebut yang berbunyi : Kalau soal jihad di Iraq dan Afghan, serta daerah-daerah lain, Anda jangan sekali-kali melupakan keterlibatan orang-orang beriman dari seluruh dunia disana. Lihatlah perjuangan Thaliban di Pakistan. Mereka lebih suka memakai nama Thaliban, bukan Al Qa’idah. Karena mereka tahu dimana kejujuran dan amanah itu.” Terlihat sekali bahwasanya ustadz AS mendefinisikan secara dualis antara al-Qaidah dan Thaliban. Sudah masyhur sekali bahwa meskipun Thaliban (nama sebuah Imarah Islam lokal) dan al-Qaidah (nama sebuah tandhim Jihad internasional) adalah hal yang berbeda dan memiliki sejarah berbeda, akan tetapi keduanya saling cinta-mencintai, bahu membahu dan dukung mendukung. Hanya orang bodoh akan waqi’ saja yang mengatakan bahwa thaliban dan al-Qaidah saling berlepas diri.

Perlu diketahui bahwa mujahidin beserta pendukungnya dari da’I-da’I taujih berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Jadi bukan berarti agenda dan propaganda jihad global ini semata-mata kerjaan al-Qaidah semata. Di dalamnya terdapat duat dan aktivis salafy asal Saudi, jebolan Ikhwanul Muslimin dari Mesir dan Syam, mantan NII dari Nusantara, dan bahkan da’i-da’I al-Muhajirun yang dimotori oleh mantan aktivis HT, yakni syaikh Omar Bakri Muhammad. Mereka semua adalah pejuang-pejuang ahlus sunnah yang siap berjuang dalam rangkaian Jihad Global dan berlepas diri dari kompromi, istihsan terhadap berbagai kebatilan dalam perjuangan Islam.

Dalam an-Nihayah wal Khulashah, syaikh Abdullah Azzam mengutip fatwa Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah berpendapat bahwasanya tidak boleh dimintai fatwa dalam masalah jihad kecuali para ulama’ yang berada di bumi jihad .. tidak boleh dimintai fatwa dalam masalah jihad kecuali para ulama’ yang memahami kondisi jihad dan berada dalam medan jihad. Ibnu Taimiyah berkata: “Seharusnya yang diterima pendapatnya dalam perkara-perkara jihad adalah pendapat orang yang memiliki agama yang lurus, yang memiliki pemahaman mengenai kondisi ahli dunia, bukan orang yang hanya memahami teori-teori agama.”

Ibnu Taimiyah mengharuskan kita untuk mengambil fatwa dalam masalah jihad dari orang yang memenuhi dua syarat:

1. hendaknya ia terjun dalam peperangan dan mengerti apa-apa yang dibutuhkan dalam peperangan, memahami kondisi ahli dunia.

2. hendaknya dia adalah termasuk ulama’ yang terkenal, artinya dia adalah orang yang memiliki agama yang lurus.

Apabila salah satu dari dua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka ia tidak boleh dimintai fatwa dalam masalah jihad. Dan berapa banyak dari kalangan ulama’ kita, para syaikh kita dan orang-orang yang kita hormati sebagaimana orang tua kita, mereka dimintai fatwa dalam masalah jihad di Afghanista kemudian mereka memberikan fatwa agar tidak berangkat jihad di Afghanistan. Namun setelah mereka mengetahui kenyataan jihad Afghanistan mereka mencabut kembali fatwanya [2].

Memang, mujahidin bukanlah manusia yang ma’shum. Di dalam pengambilan keputusan seringkali mereka mendapatkan kesalahan. Sedangkan mereka adalah orang alim dibidangnya. Sehingga bukan hal yang benar jika mengungkit-ungkit kesalahan mereka, mencela mereka, menetapkan baro’ terhadap mereka, sedangkan kebanyakan duat pencela itu adalah al-Qo’idun, yakni orang yang duduk-duduk.

Barangkali mereka para pencela sekalipun belum pernah menginjakkan kaki di bumi tadrib, namun sudah sedemikian beraninya mereka berfatwa yang tidak-tidak kepada mujahidin. Syaikh Abdul Aziz al-Julayyil, seorang ulama yang pernah dibuikan oleh pemerintahan Saudi berfatwa : Kesalahan yang dilakukan oleh sebagian mujahidin tidak berarti bahwa jihad adalah sebuah kesalahan, dan menasihati mereka haruslah disertai Wala’ (Loyalitas, Kecintaan) kepada mereka, sehingga tidak terbuka celah bagi “ Para penolak “ untuk mengingkari Jihad.[3]

Perbuatan mencela mujahidin ini merupakan hal yang sangat dahsyat akibatnya bagi umat. Mereka-mereka yang awam akan bingung. Dan ketika tiba saatnya bagi kaum muslimin untuk menentukan loyalitas, mereka-mereka yang awam akan menghindar dari jihad dan memilih jalan lain.

 

Demi Allah, Gedung WTC Tidak Akan Hancur Hanya Ditabrak Oleh Sebuah Pesawat

Ustadz AS bersumpah dengan nama Allah tentang pernyataan ini. Namun siapa yang bisa menghalangi kehendak Allah ? Apakah pengetahuan mereka tentang teknologi membuat mereka lupa akan kebesaran Allah ? Sungguh mereka semua telah melupakan bahwa rahmat dan kebesaran Allah akan dating kepada mereka-mereka yang mau berusaha dan bersungguh-sungguh, terutama dalam jihad qital fii sabilillah.

Syaikh Omar Bakri Muhammad, pimpinan Jamaah al-Muhajirun, ketika ditanya tentang hancurnya WTC, beliau menjawab bahwasanya WTC adalah ayat-ayat Allah yang ditunjukkan lewat perantara magnificent 19 yang secara akal memang tidak memungkinkan untuk menghancurkan berhala ekonomi dunia tersebut. Setidaknya beliau menyebutkan tanda-tanda kebesaran Allah dalam peledakan WTC sebagai berikut :

1. Sekelompok Kecil Mengalahkan Kelompok Besar

2. Semua perhitungan dan pertahanan mereka gagal, karena Allah mengirim orang-orang dengan suatu cara yang mereka tidak sangka-sangka

3. Kita tidak membunuh, tetapi Allahlah yang membunuh

4. Akan ada orang-orang yang mengorbankan dirinya hanya semata-mata karena Allah

5. Allah memberikan kemenangan dengan cara mencampakkan ketakutan dalam hati musuh

6. Bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mendatangkan kemudharatan, kecuali apa yang telah Allah tetapkan[4]

Peledakan WTC merupakan karamah abad ini, karena sifatnya yang tidak masuk diakal, terutama penganut teori konspirasi[5]. Seperti halnya sifat karamah yang lain, manusia tidak mampu secara sengaja untuk mengulangi peristiwa WTC ini. Oleh karena itu gugurlah syubhat dari penganut teori konspirasi yang mengatakan bahwa jika Usamah benar-benar mendalangi peristiwa ini maka Usamah bisa melakukannya berulang kali.

Dan satu hal lagi yang perlu diketahui bahwasanya kondisi tadrib para operator serangan sama sekali tidak diketahui oleh para penganut teori konspirasi ini. Sehingga apa yang terjadi pada operator serangan sama sekali tidak diketahui oleh penuduh-penuduh mujahidin, apalagi para keroco-keroco yang sama sekali belum pernah memegang peralatan tempur.

Terorisme dan Takfir Bukan Ajaran Islam ?

Ustadz AS dalam statemen selanjutnya mengatakan bahwa mujahidin (dalam hal ini al-Qaida dan pendukung-pendukungnya) adalah teroris yang doyan takfir, dan nafsu takfir mereka hamper senada dengan nafsu tahdzir kalangan salafy yamani. Entah apa yang ada dibenak ustadz yang satu ini. Takfir memang salah satu tabiat dan konsekuensi yang merupakan persamaan antara pecahan Khawarij dengan ahlus sunnah. Namun persamaan ini bukan berarti mengesampingkan takfir. Sebab takfir ahlus sunnah berbeda dengan takfir khawarij.

Takfir atau pengkafiran adalah termasuk dari bagian syariat Islam yang maha sempurna. Takfir merupakan manhaj salaf yang diintisarikan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka kita wajib memuliakannya dan mendudukan pada kedudukan yang sebenarnya dan haram melecehkannya. Hari ini terdapat manusia yang kurang ilmu dan adab menjadikan takfir sebagai senda gurau sampai muncul istilah paham takfiriy untuk mengejek kelompok yang berani mengkafirkan. Dalam menyikapi takfir, manusia terbagi menjadi tiga golongan:

  1. Golongan yang bersikap ifrath (berlebih-lebihan) dan melampaui batas seperti khawarij.
  2. Golongan yang bersikap tafrith (mengurang-ngurangkan) dan sembrono seperti murji’ah, khususnya ghulatnya (ekstrimnya).
  3. Golongan yang bersikap wasath dan i’tidal (pertengahan, tidak ifrath dan tafrith) yakni golongan Ahli Sunnah wal Jamaah.[6]

Sehingga takfir merupakan hal yang harus dipahami oleh setiap kaum muslimin. Bahkan Ibnu Taimiyah memvonis kafir mereka para murjiah yang malampaui batas[7].

Sedangkan mereka yang menuduh terorisme bukanlah bagian dari jihad, maka Syaikh Abdul Qodir bin Abdul Aziz menyatakan dengan jelas, bahwa irhab merupakan hal yang diwajibkan dalam syariat Islam, dan tidak boleh seorang muslim mengingkari syariat tersebut. Sebagaimana dalam firman Allah berikut ini :

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).(QS Al-Anfal 60)

Bahkan Syaikh Abdullah Azzam sendiri (dengan latar belakang “cinta damai” ala ikhwanul muslimin beliau) berkata : Nyatakan kepada orang kafir dan salibis, bahwa kami adalah teroris, karena teror itu adalah sebuah kewajiban yang tercantum dalam Kitabullah. Dunia timur dan barat harus tahu bahwa kita adalah teroris dan ekstrim[8]. Lantas bagaimana ustadz AS dengan santainya mengatakan demikian: Andaikan Usamah benar-benar seorang mujahid Islam sejati; dia pasti akan terbunuh seperti Dr. Abdullah Azzam, Syaikh Ahmad Yasin, Yahya Ayash, Jendral Khatab, dan lainnya.

Khatimah

Setidaknya dari tulisan diatas dapat membantu para pembaca untuk meluruskan pemahaman yang terjadi. Bantahan ini memang cukup ringan. Penulis merasa hanya mencukupkan diri untuk membantah perkataan batil kepada mujahid-mujahid umat ini dengan risalah kecil ini dikarenakan karena keterbatasan penulis. Dan penulis merasa dengan hal tersebut mengakibatkan hanya sampai di sini saja penulis menyampaikan kutipan-kutipan ini dan tidak perlu melanjutkannya lebih jauh.

Untuk memahami lebih jauh bagaimana aqidah para mujahidin al-Qaida dan penyokongnya, hendaknya para pembaca merujuk langsung ke karangan ulama-ulama berikut ini :

1. Abdul Qodir bin Abdul Aziz

2. Abu Muhammad Ashim al-Maqdisi

3. Usamah bin Ladin

4. Abdullah Azzam

5. Abu Bashir at-Tarthusi

6. Abu Qotadah al-Filisthini

Setidaknya karya para ulama-ulama tersebut dapat menjadi pembanding, manakah nukilan-nukilan jujur yang berdasar dan berdalil. Sehingga dengan izin dari Allah para pencari kebenaran dapat menilai sendiri mana aqidah Ahlus Sunnah, Khawarij atau Murjiah.

14 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. heheh mbop

  2. nek jamaah wal ibri ono ora?

    • opo kui mboop? rung tau krungu aku….

      • jamaahe wong ibrani

      • rung tau mbbooop

  3. Abi syakir rupanya masih berproses… semoga berproses menuju yang benar….

    • ya ustadz, semoga dengan bantahan ringan ini bisa menjadi ajang amar maruf nahi munkar dan tawasshau bil haq diantara kita, mengingat beliau juga salah satu orang yang membantu saya dalam bidang dirosatul harokah

  4. perekayasa sejati ..

    • silahkan ente menganut teori konspirasi, tapi hati-hati, jangan ikut2an jadi pencela mujahidin.

      • mrk korban rekayasa maksdnya .
        wallahu a’lam .

  5. utk artikel ini sy no comment dulu (tawaquf)

    meskipun sbnrnya punya pandangan tersendiri.
    😀

    terkadang, korelasi antara mencela dan mengkritk itu sangat tipis…

    • teori apapun bisa dianut, yang penting tidak mengata-ngatai Usamah bin Laden, sebagai antek CIA, bahkan dalam komentar terakhirnya, sang penuduh telah menuduh Usamah sebagai syaithan…naudzubillah min dzalik,
      1)okelah, kita katakan dan asumsikan Usamah hanya bersiasat/berpolitik dengan polemiknya, namun kenapa ini penuduh melarang para mujahidin untuk berpolitik namun tidak mencela ikhwanul muslimin yang berpolitik di parlemen sekuler?? (kecuali PKS yang telah dicela habis2an oleh pak ustad ini, karena pks emang kebablasan)
      2)Apakah dengan tidak mengaku sebagai pelaku peledakan, ada jaminan USA tidak mengobrak-abrik daulah taliban?? kalau kata pak ustad ini, daulah taliban diobrak-abrik AS karena pengakuan Usamah, dan ini menjadikannya tertuduh antek CIA. Padahal ust Abu aja yang nggak ngaku, tetep aja ditangkep dan terus diintai USA.
      3)Pak ustad ini tidak sedang berada di medan JIhad (kemungkinan besar belum pernah ke medan jihad, ambon aja keliatannya nggak, apalagi Afgan??), jadi pernyataannya seperti orang nggak puasa ngomentarin orang puasa, njelek2in lagi!!
      4)Sebagai orang yang qoidun (duduk2 saja) dan mengaku berpena (narablog🙂 ), tidakkah kita berkewajiban membela mujahid dari tuduhan2 nggak ceto???

    • mumet saya baca teori konspirasi, okelah anda penganut teori konspirasi, tapi jangan nuduh usamah sebagai syetan, sam boong…..

      orang kertas dilipet kok dijadiin bukti, rumus gitu…baru bisa jadi bukti………


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: