Sedikit Saran Tentang Manhaj dan Sikap Terhadap Penebar Syubhatnya

November 8, 2010 at 8:04 am | Posted in aqidah, islam, jihadi | 2 Comments

Sebuah saran kepada muharrik yang menyandarkan manhajnya kepada dakwah tauhid dan jihad fii sabilillah….

khilafahstuff

Alhamdulillah, pada saat ini banyak pemuda yang dalam hati mereka sadar akan pentingnya menegakkan khilafah islamiyah. Meskipun hal itu masih belum bisa mereka amalkan dan ditunjukkan dalam kegiatan sehari-hari. Hanya saja tidak semua pemuda-pemuda tersebut (yang banyak diantaranya adalah para muharrik) mendapatkan ilmu yang sesuai dengan manhaj salaf dalam tatacara penegakannya. Banyak diantara para aktivis tersebut tercebur dari pemahaman yang salah. Kesalahan pemahaman tersebut bervariasi, dari pemahaman ahlul bid’ah hingga tatacara penegakan yang berbau kekufuran yang mereka ber-istihsan dalam menempuh jalan tersebut.

Berikut ini adalah beberapa statemen ataupun perbuatan yang mencerminkan ketidak pahaman akan manhaj salaf :

1.      Banyak aktivis dan muharrik berdalil dengan kata-kata “mutiara” berikut ini : ”Tegakkanlah negara Islam di hati kalian tentu ia ditegakkan di atas bumi kalian”. Ucapan ini merupakan sebuah kata-kata yang telah menjadi dalil yang didengung-dengungkan bersama hujjah lemah. Ucapan ini sering digunakan oleh para pengusung paham irja’ dalam masalah hukum[1]. Pemasungan kata hati dalam kalimat ini adalah sebuah bentuk penolakan terhadap lisan dan perbuatan. Sebab pada hakikatnya murjiah mencukupkan iman hanya pada pembenaran hati saja[2].

2.      Beberapa harakah menganggap baik masuknya mereka dalam sistem politik praktis di alam pemerintahan kufur, seperti sistem demokrasi, sosialis dan sebagainya. Mereka menganggap masuknya perjuangan islam ke pemerintahan sekuler dapat meringankan beban kaum muslimin dan terdapat maslahat di dalamnya. Padahal perbuatan ini sudah dibantah oleh salaf, diantaranya Sufyan ats-Tsaury : “Janganlah kamu mendekati atau bergaul dengan para penguasa sedikitpun. Dan jangan sampai ada yang mengatakan kepadamu;(Lakukan saja) supaya kamu dapat membela atau mempertahankan orang yang didholimi atau mengembalikan hak orang yang diambil secara dholim. Karena ini adalah tipu daya iblis…yang dijadikan tangga (dalih) oleh para quroo’ (ahli Al Qur’an) yang bejat.” (Dari Siyarul A’laam An Nubalaa’ XIII/586 dan Jaami’u Bayaanil ‘Ilmi Wa Fadl-lihi I/179)[3].

3.      Harakah lain menganggap tidak boleh menegakkan khilafah dengan cara jihad qital fii sabilillah. Penegakan haruslah dengan meminta pertolongan dalam thalabun-nushrah (mencari-cari pertolongan). Wallahu a’lam, pendapat ulama salaf mana yang mereka ambil dalam masalah ini.

 

Penegakan Masa Kosong Khilafah

Sejak jatuhnya khilafah islamiyah, setidaknya sejak 1924 Masehi, berkilo-kilo tanah kaum muslimin telah jatuh ke tangan para kufur penjajah dan orang-orang murtad. Maka Syaikh Abdullah Azzam rahimahullah berfatwa bahwasanya telah wajib ain bagi kaum muslimin untuk merebut kembali tanah-tanah kaum muslimin tersebut dari tangan penjajah, bahkan sejak jatuhnya Andalusia [4]. Salah seorang murid beliau, pemuka para mujahid saat ini, yaitu Syaikh Usamah bin Laden hafidhahullah menyatakan bahwasanya untuk merebut kembali tanah-tanah tersebut diperlukan beberapa faktor. Faktor-faktor penting tersebut antara lain adalah Jamaah, Sammu dan Tho’ah, Hijrah serta Jihad. Seperti dalam petikan hadits Rasulullah tentang cerita Nabi Yahya dan Nabi Isa berikut ini :

Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dan aku perintahkan kalian dengan lima hal yang Alloh telah perintahkan aku dengannya: Mendengar dan taat, Jihad, Hijrah dan Jama’ah.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)[5]

Dalam risalah yang sama beliau menekankan bahwa berjihad di saat fardhu ain merupakan kewajiban yang paling besar setelah Tauhid. Bahkan shahabat ahli Madinah seperti Kaab bin Malik sempat dilabeli sebagai orang yang fasik ketika beliau tidak berangkat ketika datangnya seruan perang Tabuk. Padahal keadaan Kaab bin Malik sendiri ketika tidak berjihad adalah tetap mengerjakan kewajiban-kewajiban lain selain  Jihad. Lantas bagaimana mereka yang meninggalkan Jihad karena amalan-amalan bid’ah dan kekeufuran pada zaman saat ini ? Bahkan diantara mereka ada yang melarang para pemuda untuk sekedar membahas tentang jihad, Subhanallah.

AQAP

Berhati-hati Dalam Bergaul

Melarang berjihad (atau mendakwahkannya), mengerjakan dan mendukung amalan-amalan kufur dan bid’ah merupakan amalan-amalan yang banyak dijumpai pada wajah umat Islam pada abad ini. Para muharrik “taujih” dan kader-kadernya seringkali tidak luput dari syubhat-syubhat ini. Salah satunya adalah ketidak pedulian mereka dalam masalah pergaulan dengan para penebar syubhat ini. Seringkali mereka (para kader “jihadi”) masih menggembar-gemborkan diri mereka sebagai aktivis yang masih jihadi (masih ber-iltizam dengan dakwah tauhid dan jihad). Namun pada kenyataannya pikiran mereka telah teracuni oleh syubhat-syubhat yang ditebarkan oleh pentolan-pentolannya.

Seringkali para kader ini terpisah dari jamaah mereka yang lama karena suatu sebab. Hal ini bisa terjadi karena perpindahan tempat tinggal, pindah tempat studi dan yang lain sebagainya. Dan yang paling miris adalah, seringkali mereka malas untuk ber-amal jamai dan merasa sudah nyaman dengan majelis-majelis ta’lim baru yang mereka ikuti. Yang lebih miris lagi adalah ketika mereka tidak mau bergabung dengan majelis ber-taujih, dengan alasan transportasi dan lain-lainnya, namun mereka merasa sah-sah dan nyaman-nyaman saja dengan majelis baru yang mereka ikuti. Padahal majelis baru tersebut tidak pernah mendakwahkan tauhid dan jihad, bahkan seringkali melarangnya atau mendakwahkan syubhat-syubhat kepada sistem pergerakan yang bathil.

Hendaknya para aktivis mendengarkan nasihat Syaikh Abu Bashir, ketika menasihati tentang duduk-duduk bersama pendakwah-pendakwah HT (Hizbut Tahrir). Syaikh menasihati agar tidak duduk-duduk bersama mereka dan (tidak) mendengarkan mereka, terutama bila mendapatkan bahwa al haq belum betul-betul bersarang dalam diri, hati dan akal sebagaimana mestinya. Karena orang semacam mereka bila diposisikan terhadap orang yang duduk-duduk bersamanya adalah bagaikan pandai besi bersama teman-teman duduknya, sebagaimana sabda Nabi saw : “Sesungguhnya perumpamaan teman duduk yang shaleh dan teman duduk yang buruk adalah bagaikan orang yang membawa minyak kasturi dan pandai besi. Sedangkan pembawa minyak kasturi, bisa jadi ia memberimu, dan bisa saja kamu membeli darinya, serta bisa jadi engkau mendapatkan bau yang harum. Adapun pandai besi, maka bisa saja ia membakar bajumu dan bisa saja kamu mendapatkan darinya bau yang busuk.” Muttafaq ‘alaih. [6] Wallahu a’lam [sksd]

——————————————————————————————————————————————

Catatan Kaki :

1. Tabshirul Uqla bi talbisati ahlut tajahhum wal irja, Syaikh Al-Maqdisi

2. Ucapan ini didengung-dengungkan oleh kalangan salafi “maz’um” dan ikhwanul muslimin. Dimana saat ini mereka saling sepakat dalam hal itu.

3. Millah Ibrahim, Syaikh Abu Muhammad al-Maqdisi

4. An-Nihayah wal Khulashah, Syaikh Abdullah Azzam

5. Taujihat Manhajiyah, Syaikh Usamah bin Laden

6. Tiada Khilafah Tanpa Tauhid dan Jihad, Syaikh Abu Bashir at-Tartusi

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. JazakAllah khoyr infonya. Saya izin buat meng-copy y

    • tafadhal, jazakillah khair


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: