Mengangkat Goyim Zionis Sebagai Pahlawan

October 18, 2010 at 8:22 am | Posted in aqidah, islam, umum | 2 Comments

Indonesia adalah sebuah bangsa yang sakit jika ditinjau secara jujur dari segala aspek. Apalagi jika dipandang dari segi pancasila yang didengung-dengungkan sebagai landasan religius-nasionalis bangsa ini. Salah satu contoh penyakit yang kini sedang merajalela dalam kehidupan para elit politik, pengamat, serta kritikusnya adalah penyakit demokrasi-liberal. Demokrasi liberal merupakan penyakit kekufuran yang sangat parah dan dibawa dari ajaran kebebasan Amerika Serikat dan konco-konconya.

Salah satu contoh penyakit yang parah tersebut adalah wacana pengangkatan Gus Dur sebagai pahlawan nasional. Tengok saja media-media berita online sekuler seperti detikcom atau kompas.com. Di beberapa tulisan dan laporan yang dimuat dalam media tersebut dinyatakan bahwa Gus dur termasuk dalam nominasi 10 besar calon pahlawan nasional, bersaing dengan calon lain seperti Soeharto dan Ali Sadikin. Alasan kuat yang mempengaruhi para juri untuk memilih Gus tersebut sebagai pahlawan adalah sumbangsihnya terhadap pluralisme di tanah air.

Entah mengapa kehebatan pluralisme seorang Gus Dur dapat membawa namanya menjadi salah satu “dewa-dewi” Republik Indonesia. Padahal jika ditilik lebih dalam, banyak orang yang jauh lebih pantas dan terlupakan untuk dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Setidaknya menurut ingatan penulis, Gus Dur memiliki beberapa kesalahan fatal yang membuatnya lebih layak dikatakan sebagai pengkhianat daripada sebagai seorang pahlawan.

1.       Gus Dur adalah Goyim Zionis

Gus Dur adalah seorang “gus”. Sebuah gelar jawa yang disematkan pada seorang keturunan kiyai terpandang dalam strata sosial masyarakat. Sangat jelas sekali bahwa Gus Dur tidak memiliki darah Yahudi dalam jasadnya. Namun entah mengapa, si Dur ini begitu peduli dan akrab dengan hal-hal yang berbau Negara Zionis. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Gus Dur sering mendapatkan medali-medali zionis dan bersilaturrahim ke Negara penjajah tersebut.

Ini adalah sesuatu yang mengherankan jika Gus Dur dianggap sebagai calon pahlawan (atau nabi bagi sebagian orang) untuk bangsa pancasila Indonesia. Apakah justru kedekatan dengan zionisme ini merupakan simbol pluralisme yang membuat Dur memiliki nilai plus? Jika demikian maka elit bangsa ini telah sekarat dari (setidak-tidaknya) ideologi pancasilanya yang nasionalis-religius.

2.       Kasus Perselingkuhan

Entah skandal ini benar atau tidak, setidaknya Gus Dur pernah terkena sebuah pemberitaan miring. Seorang wanita terkenal berinisial AS mengaku pernah menjadi obyek perselingkuhan Gus Dur. Meski berita ini tidak pernah terungkap kebenarannya, namun hendaknya para juri lebih selektif lagi dalam menyeleksi calon-calon pahlawan. Sangat ironis jika laki-laki di Indonesia nantinya gemar berselingkuh hanya karena berhujjah dengan alasan pahlawan Indonesia pun berbuat begitu.

3.       Kesemrawutan Pemerintahan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Gus Dur adalah presiden RI yang gemar pelesiran ke mana-mana. Masa pemerintahannya pun diwarnai berbagai instabilitas yang cukup memalukan. Kerusuhan-kerusuhan antar etnis pun banyak terjadi di masa ini. Mulai dari Ambon, Sampit, hingga Poso. Semuanya bisa dibilang terjadi ketika zamannya Gus Dur. Dan masih banyak kekacauan lainnya, hingga sang Presiden harus lengser dari singgasananya dengan kondisi bercelana kolor. Setidaknya jika sebuah negara akan celaka jika dipimpin oleh seorang wanita, maka sebuah negara yang dipimpin oleh seorang Gus Dur akan lebih kacau dari itu.

4.       Penyokong Aliran-aliran Sesat dalam Politik dan Agama

Lagi-lagi bukan rahasia jika Gus Dur adalah orang yang gemar melindungi aliran-aliran sesat. Sudah banyak aliran sesat dibela olehnya, bahkan aliran politik yang bertentangan dengan konstitusi pun dibela. Pada zaman pemerintahannya, Gus Dur pernah mengusulkan untuk mencopot peraturan MPR yang melarang keberadaan ormas-ormas berhaluan komunis. Padahal menurut sebagian kalangan NU, organisasi yang pernah dipimpin oleh Gus Dur, adalah salah satu ormas yang getol membasmi PKI.

Namun ada satu hal yang aneh dari watak super-pluralis Gus Dur. Dia membiarkan dan melindungi aliran-aliran menyimpang dalam Islam dan Politik Indonesia. Namun ironisnya dia tidak mau berbagi PKB, bahkan dengan keponakannya sendiri. Di mana pluralisme dan paham kemajemukan yang didengung-dengungkannya? Bagaimana mungkin mengajak umat menuju pluralisme, sedangkan dalam organisasi bentukannya sendiri dia bersikap otoriter.

5.       Sikap Kontra-Produktif Kerukunan Umat Beragama

Beberapa tahun yang lalu Gus Dur pernah mencoreng mukanya sendiri dengan kasus kerukunan antar (internal?) umat beragama. Gus Dur memberikan pernyataannya yang terkenal tentang cabulnya Al-Qur’an. Entah darimana Gus Dur mendapat ide ini. Padahal Gus Dur sendiri adalah keturunan pejuang-pejuang Islam seperti KH Hasyim, atau ayahnya sendiri yakni KH Wachid. Pernyataan yang dikeluarkan ini menjadi preseden buruk bagi pluralisme. Sebab Gus Dur yang sepertinya bukan lagi beragama Islam (setidaknya Islam Liberal, bukan Dienul Islam) telah menghina kitab suci agama Islam dan memecah persatuan umat beragama.

Inilah sikap-sikap seorang calon pahlawan bangsa yang sangat menusuk-nusuk hati umat Islam. Entah mengapa banyak tokoh-tokoh yang mengaku Islam juga turut sepakat dalam hal ini. Dapat dikatakan mereka tidak memiliki sense of loyality terhadap agamanya. Padahal al-Wala wal Baro’ merupakan bagian tak terpisahkan dalam keimanan Dienullah.

Tinjauan Al-Wala dan Al-Bara’

Menetapkan siapa musuh, siapa kawan adalah keyakinan yang mendasar bagi umat Islam. Menjadi cinta kedamaian bukan berarti tidak punya musuh. Alam ini selalu terdiri dari dua kutub yang berlainan. Dan Allah telah menetapkan siapa yang harus dibenci dan siapa yang harus dicintai.

” Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” [HR. Ahmad dan Al Hakim, Silsilah Ahadits Shahihah no. 1728].

Dan semoga semua ini menjadi pelajaran bagi para pemuka dan aktivis umat Islam. Bahwasanya kebencian penganut aqidah Islam terhadap perusak syariat sudah mendarah daging. Kebencian itu utamanya bukan karena golongan, ras, atau ikatan primodial lainnya. Kebencian itu telah ditetapkan oleh Allah dan umat Islam tidak boleh ragu dan malu akan hal itu.

” Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara atau kerabat mereka sendiri..” [QS. Al Mujadalah 22] [sksd]

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. hati-hati dengan provokasi yg justru mencoreng keyakinan kita sendiri, pada dasarnya agama dimanapun selalu mengajarkan kasih bukan memusuhi!!!!

  2. Hahahahahahaha lucu,,,g punya alasan yang lebih mendasar ya bung???? Semuanya kok terkesan “katanya” wkkkkkkkkk!lihatlah secara objektif,,jgn keburu nafsu begitu,,,hahahahahhaha subhanallah banyak sekali kandungan fitnahnya dr pada faktanya,,naudzubillah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: