Petaka Nasionalisme Di Sekitar Kita

September 5, 2010 at 10:15 am | Posted in aqidah, islam, jihadi, sejarah | 2 Comments

Hari ini umat manusia telah sampai dalam dunia yang penuh dengan batas-batas dan kekangan. Semenjak memasuki era Persatuan Bangsa Bangsa pada 1940-an, banyak negara terbebas secara dhahir dari penjajahan dan kolonialisme bangsa barat. Dampak ini begitu dirasakan oleh negara-negara berpenduduk muslim seperti Indonesia, Pakistan, atau Mesir. Hingga tahun 1960-an atau bahkan 1980-an, masih terus terjadi gelombang kemerdekaan negeri-negeri muslim dari cengkeraman secara langsung oleh negara barat.

Sejak bergulirnya perang Salib hingga dimulainya zaman Renaissance di Eropa, bangsa-bangsa barat (dalam hal ini Eropa), terlibat dalam sebuah petualangan besar yang melibatkan pencarian kekayaan, kejayaan, dan penyebaran agama. Misi-misi yang dikenal dengan 3G (gold, glory and gospel) ini terangkum dalam sebuah ekspansi yan dikenal dengan nama kolonialisme. Sepertinya banyak negara-negara Eropa bersaing untuk meraih kejayaan mereka di tanah-tanah yang terproteksi dan terkoneksi dengan kekhilafahan Ottoman, seperti wilayah-wilayah Aceh, Mataram ataupun Makassar. Tujuan mereka sangat jelas, yakni untuk memadamkan cahaya Islam di wilayah-wilayah tersebut.

Selama ratusan tahun, negeri-negeri tersebut harus bergulat secara fisik untuk membebaskan diri mereka dari kekangan bangsa Eropa. Perlawanan-perlawanan tersebut tercatat dalam sejarah. Dari perlawanan Hassanuddin, Diponegoro, hingga Teuku Umar, semuanya adalah buah dari perang salib yang mungkin tak kunjung usai hingga saat ini. Bangsa Eropa pun lama kelamaan sadar jika selama beratus-ratus tahun, keyakinan umat Islam tidak berubah. Satu demi satu pejuang bergantian dalam melawan hegemoni kolonialisme, meskipun banyak kekalahan yang mereka derita.

Hingga pada akhirnya terciptalah sebuah isme yang dirasa cocok untuk menundukkan keyakinan dan akidah umat Islam. Setelah bosan mengeruk kekayaan yang berbuah kemakmuran di Eropa, terutama ketika memasuki abad ke-20, kolonialis merubah orientasi misi mereka menjadi lebih ke Gospel. Namun bukan lagi bibel yang mereka susupkan ke dalam otak-otak pribumi yang notabene mayoritas muslim. Untuk menyebarkan kerancuan dalam hati dan pikiran kaum muslimin, penjajah Eropa mencuci otak banyak generasi muda umat Islam dengan ideologi-ideologi sekuler seperti Liberalisme, Komunisme, dan yang terakhir adalah Nasionalisme.

Keberhasilan dan Fase PBB

Pengkaburan-pengkaburan ini berbuah manis bagi bangsa barat. Cuci otak dengan segala isme-isme itu berhasil. Minimal mereka telah menjadikan sebagian besar umat Islam untuk menggunakan cara pandang Nasionalisme dalam kegiatan sehari-hari mereka. Di Indonesia sendiri, lingkungan dan situasi pada awal abad ke-20 yang memperlihatkan surutnya perjuangan fisik juga mendukung berkembang suburnya isme-isme ini. Bahkan perjuangan di atas meja menjadi sebuah kepahlawanan yang diagung-agungkan melebihi perjuangan fisik. Sehingga hasilnya adalah banyak dari umat tergiring opininya untuk meninggalkan jihad fisik.

Masa awal abad ke-20 merupakan masa penggodokan Nasionalisme, sehingga sampai sekarang, paham yang ditanamkan oleh bangsa barat tersebut sangat tertanam di dalam hati banyak kaum muslimin. Hingga akhirnya konstelasi politik dunia berubah. Inggris sebagai pemuka kolonialisme tidak lagi dominan dalam percaturan politik dunia. Munculnya Amerika Serikat sebagai kekuatan baru yang bernafaskan pada demokrasi dan liberalisme membuat pengaturan politik dunia cenderung ke arah kapitalisme modern.

Berlangsungnya Perang Dunia pertama dan kedua, serta peran Amerika di dalamnya membuat Negeri Paman Sam ini semakin pada puncak posisinya, yakni sebagai polisi dunia (meskipun sempat Uni Sovyet mencoba menyaingi pada saat perang dingin). Peran Amerika sebagai pendiri PBB juga semakin mengokohkan hal ini. Amerika selalu menjadi pengatur pusat dari segala permasalahan yang terjadi dalam percaturan politik dunia. Amerika selalu mendiktekan ideologi Demokrasi dan Liberalisme kepada seluruh negara yang bernaung dalam PBB.

Dalam masa-masa pasca Perang Dunia kedua, sistem administrasi negara yang berdasarkan pada ideologi Nasionalisme semakin bertambah rapi. Semua tata cara bernegara diatur berdasarkan prinsip-prinsip Chauvinisme yang dibungkus dalam semangat kesamaan asal-usul, genetis, dan lokasi tempat tinggal. Namun ideologi-ideologi warisan perang pemikiran ini telah menjadi petaka baru bagi dunia Islam. Banyak kasus-kasus yang seharusnya dilihat dari kacamata ukhuwah islamiyah menjadi rancu hanya gara-gara dilihat dari perspektif batas-batas negara, territorial dan lain sebagainya. Malahan seringkali penganut ideologi Nasionalisme ini begitu perkasanya menolak saudara-saudara seagama mereka, namun lemah di depan kepentingan negara polisi dunia, Amerika.

Kasus-kasus Malapetaka Akibat Nasionalisme

Begitu banyak permasalahan baru yang timbul dalam penerapan Nasionalisme ini, terutama dengan adanya PBB sebagai pelindung dari keberadaan negara-negara kontemporer. Negara dalam pandangan kebanyakan umat Islam pada hari ini adalah sebuah kesatuan wilayah yang sudah baku dan tetap yang tidak dapat lagi diganggu gugat. Penduduk yang mendiaminya sudah terdaftar dengan aturan-aturan tertentu yang berbeda-beda di setiap negara. Seringkali ikatan-ikatan Nasionalisme pada masa ini lebih bersifat kewilayahan. Bahkan Nasionalisme pada masa ini telah berselingkuh dari asal kata Nasionalisme itu sendiri.

Nasionalisme merupakan pengembangan dari kata nation yang artinya lebih mengacu pada kesukuan yang memiliki ikatan keluarga daripada ikatan-ikatan kedaerahan. Tetapi pada zaman ini Nasionalisme telah mengalami pergeseran makna kepada sebuah ideologi yang menuntut penganutnya untuk loyal dengan negara yang dia diami hingga harus rela menyerahkan pengabdiannya hanya untuk negara tersebut. Dalam hal ini negara dalam Nasionalisme bisa disebut sebagai Tuhan “Ibu Pertiwi”, atau minimal Nasionalis yang religius menganggap bahwa loyalitas terhadap negara merupakan sebuah fitrah dan kewajiban yang telah digariskan oleh-Nya. Sehingga seringkali Nasionalisme sudah dianggap sebagai hati nurani. Orang yang kurang loyal dengan negara atau pemimpinnya seringkali dipertanyakan hati nuraninya.

Dengan demikian pada zaman ini banyak terjadi kasus-kasus perendahan kemanusiaan hanya gara-gara ideologi nasionalisme ini. Berikut ini beberapa contoh petaka-petaka yang terjadi karena Nasionalisme :

1. Pengungsi Rohingya

Sebuah kasus yang seringkali membuat hati nurani tergetar. Itulah keadaan muslimin Rohingya di Myanmar yang kini sedang dalam cobaan berat. Etnis Rohingya merupakan kelompok etnis beragama Islam yang secara genetis lebih dekat kekerabatannya dengan saudara-saudara mereka di Bangladesh. Keberadaan pemerintah bercorak Buddha dan Militeris di Myanmar membuat mereka dalam tekanan berat.

blogs.mirror.co.uk

Muslimin Rohingya dibatasi hak-haknya sebagai warga negara karena mereka secara fisik dan spiritual memang berbeda dari kebanyakan warga Myanmar. Banyak diantara mereka diperkosa hingga dibantai, hingga mereka terpaksa harus eksodus ke tempat lain.

Namun apa yang terjadi ? Banyak dari proses eksodus mereka yang susah payah berbuah kematian atau minimal pendeportasian kembali ke tempa asal, yang pada akhirnya pendeportasian tersebut membawa hukuman-hukuman baru dari pemerintah zalim Myanmar. Mengapa terjadi perlakuan yang sedemikian kejam ? Bahkan mereka ditolak di Bangladesh yang penduduknya sesuku dengan mereka.

Terombang-ambingnya mereka dengan tanpa bekal dari lautan Benggala ke pantai timur Sumatera (yang tidak jarang berujung kematian) hanya menghasilkan penolakan. Meskipun di Indonesia mereka mendapat perlakuan yang baik untuk sementara waktu. Sehingga mereka tidak mungkin untuk mengharap pertolongan dari saudara-saudara mereka yang sedarah dan seagama, apalagi hanya ikatan seagama semata, karena hal ini terbentur tembok Nasionalisme.

2. Tembok-tembok Pemisah Mesir-Gaza

Sejak berdirinya pemerintahan Hamas (atau entah sejak kapan) di Jalur Gaza, Palestina, Mesir semakin getol saja membangun tembok pemisah yang menutup akses kawasan Rafah dari penduduk Gaza. Padahal pintu Rafahlah satu-satunya akses untuk melaksanakan transaksi kebutuhan sehari-hari bagi penduduk Gaza. Penduduk Gaza tidak mungkin untuk membuka akses dari selain Rafah, sebab Rafah adalah perbatasan daratan yang tidak berhubungan langsung dengan negeri penjajah Israel.

Berbagai kreasi dicoba untuk menyiasati keadaan ini. Metode yang sering digunakan penduduk Gaza adalah menggali terowongan menembus tembok-tembok pembatas. Kebutuhan sandang, pangan hingga ternak seperti kambing seringkali melewati “jalan tikus” ini untuk sampai ke Gaza. Bantuan-bantuan kemanusiaan pun seringkali kesusahan untuk memasuki Gaza. Untuk memasuki Gaza dari pintu Rafah, diperlukan diplomasi dan birokrasi yang berbelit-belit serta biaya yang mahal.

Sebenarnya apakah yang mendasari sikap-sikap apatis destruktif negara Mesir ini ? Bukankah Palestina dan Mesir sama-sama berbahasa Arab ? Bukankah keduanya terletak di tepi Laut Mediteran? Bukankah dahulu Mesir dan Palestina pernah sama-sama berjuang melawan Israel ? Tidak lain dan tidak bukan adalah Nasionalismelah yang menyulut rasa apatis Mesir dengan Palestina. Nasionalisme berlebihan Palestina pada zaman dulu jugalah yang membuat Mesir menganggap Palestina tidak lebih penting dari uang-uang mereka.

3. Nasib Melayu Pattani

Pattani adalah sebuah daerah ujung selatan dari sebuah negara berpenduduk mayoritas Buddha di Asia Tenggara, yakni Thailand. Pattani dahulunya merupakan wilayah yang menjadi bagian sejarah masa lalu dari kerajaan-kerajaan Melayu di Semenanjung Melayu. Hal ini mengakibatkan mayoritas penduduk di Pattani adalah etnis Melayu, berbahasa Melayu dan beragama Islam. Dapat dikatakan bahwa kebudayaan Pattani tidak bisa dipisahkan dari entitas negara Malaysia.

zum.de

Kedudukan muslimin Pattani di Thailand kurang lebih sama seperti kedudukan muslimin Rohingya di Myanmar. Hanya saja keadaan politik di Thailand yang Liberalis membuat keadaan ekonomi dan hak-hak publik Melayu Pattani menjadi lebih baik. Namun keadaan mereka di Pattani jauh lebih buruk daripada saudara-saudara Melayu muslim mereka yang ada di Malaysia. Seringkali terjadi gangguan hingga pembantaian yang dilakukan oleh etnis Thai sebagai etnis yang berkuasa.

Dalam keadaan yang terjepit ini, jarang didengar pemerintah Malaysia melayangkan protes atau sekedar teguran kepada Thailand. Pemerintah Malaysia barangkali lebih condong untuk mengurusi warga negaranya yang beretnis India atau Tionghoa daripada mengurusi saudara sedarah mereka di Pattani. Pembelaan yang minimalis ini mengundang pertanyaan bagi hati nurani. Apakah yang menghalangi muslimin Pattani untuk mendapatkan proteksi dari saudara Malaysia mereka ? Jawaban yang tepat tidak lain adalah sebuah ikatan lokal dan primodial serta batas-batas administratif yang dijalankan berdasarkan ideologi Nasionalisme.

4. Perseteruan Indonesia-Malaysia

Hubungan antar negara yang terjadi pada Indonesia dan Malaysia merupakan dinamika yang terus berjalan semenjak dahulu. Kasus yang paling hangat adalah perseteruan Indonesia dengan “adiknya”, yakni Malaysia. Banyak penduduk kedua negara yang teracuni Nasionalisme saat ini saling berkoar-koar untuk saling berperang dan membunuh. Berbagai letupan-letupan peristiwa, baik yang kecil, sedang ataupun besar menjadi isu sensitive yang seringkali memicu permusuhan antar penganut ideologi Nasionalisme di kedua negara.

Sebenarnya jika masyarakat kedua negara mau berpikir jernih tidak akan terjadi letupan-letupan semacam ini. Bahkan dalam konstelasi kepulauan Nusantara ini tidak akan terjadi dualisme negara Indonesia Malaysia. Jika mau berpikir dengan jujur, Indonesia dan Malaysia adalah entitas yang kembar. Kedua pihak dapat saling mengisi. Jika tidak ada ideologi Nasionalisme, para pencari kerja dan nafkah dapat dengan mudah berlalu lalang tanpa halangan batas administratif.

Entah mengapa kebodohan lebih condong untuk saling membatasi. Lagi-lagi karena Nasionalisme yang ditanam kolonialis di zaman dahulu.

Nasionalisme Ideologi Wahn

Nasionalisme sebenarnya adalah sebuah ideologi asing bagi umat Islam. Nasionalisme modern pasca-fase PBB beserta aplikasinya telah membuat batas-batas baru yang tidak dapat diduga sebelumnya. Dengan dalih keteraturan administratif serta kemakmuran internal, umat Islam yang tersakiti di suatu lokasi tidak dapat berhijrah ke tempat lain di mana saudara-saudara seagama mereka di tempat lain tinggal dengan aman. Nasionalisme bahkan telah merubah cara pandang terhadap sesama manusia. Seorang pak Kyai yang Nasionalis di Indonesia mungkin lebih merasa bersaudara dengan tetangganya seorang Papua Kristen atau Tionghoa Konghucu daripada dengan seorang Haji yang merupakan polisi kelautan Malaysia di perbatasan.

Ideologi-ideologi semacam Nasionalisme merupakan penggiring-penggiring yang telah menyesatkan umat Islam. Seorang muslimin yang harusnya memiliki fanatisme dan loyalitas kepada Islam beralih untuk menomor satukan bumi pertiwi dan menomorduakan kesamaan dien gara-gara paham Nasionalisme. Dengan beralihnya kecintaan dari kecintaan kepada Islam menuju ke kecintaan dengan negara atau yang sejenisnya, maka hal ini merupakan gejala terkondisikannya wabah Wahn dalam keyakinannya. Sehingga dapat dikatakan bahwasanya Nasionalisme merupakan manifestasi dari penyakit Wahn atau seorang muslim yang mengaku Nasionalis adalah seseorang yang terkena gejala penyakit Wahn.

Dengan adanya Nasionalisme yang ditanamkan oleh peradaban barat kepada kaum Muslimin telah membuat kaum Muslimin pada saat ini tega mengacuhkan saudara seagamanya sendiri. Nasionalisme pula yang telah mengantarkan dua negara yang sama-sama mayoritas muslim untuk saling “panas-panasan”. Nasionalisme membuat seorang muslim melihat saudaranya yang teraniaya di belahan bumi lain dengan pandangan yang berbeda, bukan dengan pandangan ukhuwah Islamiyah. Nasionalisme dengan nyata membuat kaum muslimin sedunia yang seharusnya bersatu melawan kemungkaran menjadi terlihat lemah dan terkotak-kotak di mata peradaban barat. Sehingga tidak heran, tidak ada negara berpenduduk muslim yang Nasionalis berani secara keras melawan kepentingan kapitalisme.

Kecintaan terhadap kemapanan bernegara, stabilitas regional telah membuat umat Islam melupakan jalan mereka. Hal inilah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah saw kepada umat Islam akhir zaman yang jumlahnya banyak, namun terperangkap dalam buih-buih yang lemah dan tak berdaya. Sabda Nabi SAW dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud dari Tsauban ra, ia berkata, Rosululloh SAW bersabda, “Hampir tiba masanya bangsa-bangsa dari berbagai penjuru mengeroyok kalian seperti orang-orang yang makan mengeroyok nampannya.” Para shahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kita sedikit waktu itu, wahai Rosululloh?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian banyak ketika itu. Akan tetapi kalian adalah buih seperti buih air. Rasa takut musuh terhadap kalian dicabut dari dada mereka, dan ditimbulkan penyakit wahn pada hati-hati kalian.” Para shahabat bertanya lagi, “Apakah wahn itu wahai Rosululloh?” Beliau bersabda, “Cinta hidup dan tidak menyukai kematian.” Dalam riwayat Imam Ahmad: “Ketidak sukaan kalian untuk berperang.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishohihkan oleh Al-Albânî.)

Oleh sebab itu, sebagai muslimin yang utuh, hendaknya ditinggalkan jauh-jauh ideologi cinta dunia semacam Nasionalisme. Tidak mungkin perjuangan menegakkan Islam akan berhasil jika dalam hati umat Islam masih dipenuhi oleh sentimen-sentimen kebangsaan. Sebagai seorang muslimin, apalagi aktivis Islam haruslah mengukur kebencian dan kecintaan berdasarkan parameter yang telah digariskan dalam al-Quran dan Sunnah. Hendaknya direnungkan surat Ali Imron ayat 103 berikut ini : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. [sksd]

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. APik al, andaikan dewe iso bergerak lebih cepat sebelum perang dunia I yo (1905)an dan sebelum zionis meraja lela yoh

    • sepertinya keadaan tanpa khalifah dan khilafah (terutama yang ala minhajin nubuwwah) sudah pernah diramalkan oleh Rosul, cuman eike gak apal hadis-e….semua time-line sistem pemerintahan umat islam ada di hadits itu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: