Mereka Adalah Irhabi, Takfiri, Wahabi….

June 4, 2010 at 8:07 am | Posted in islam, jihadi, sejarah | 5 Comments

Teroris, Ekstrimis, Fundamentalis, dan  Tekstualis. Begitulah kata-kata yang dilukiskan oleh orang-orang non-muslim dan liberalis (baca : kafir dan zindiq) kepada para mujahidin, da’i jihad dan simpatisan mereka. Hal ini sudah menjadi sesuatu yang wajar. Sebab bukan hanya kepada mereka yang menyeru ke thaifah manshurah saja para non-muslim ini mengejek dan menjelek-jelekkan. Seringkali mereka juga menyerang kelompok islam “moderat” dengan julukan-julukan sesuka mereka.

Ejekan para liberalis ini sekali lagi merupakan hal yang wajar bagi mujahidin. Namun hal yang lebih parah adalah banyak bagian dari kaum muslimin yang sering dijuluki harokiyyun, ikhwaniyyun, atau mungkin wahabiyyun juga ikut-ikutan melabeli pendakwah tauhid hukum dan jihad dengan label-label yang buruk namun lebih terdengar syar’i dalam dunia Islam. Tuduhan-tuduhan ini sangat aneh, sebab para pendakwah tauhid dan jihad di masa ini sebenarnya berangkat dari pelajaran pokok para syaikh (guru besar) penuduh-penuduh ini. Dengan istilah yang lebih terdengar islami, pendakwah tauhid dan jihad seringkali dituding sebagai takfiri, khawarij, ahlul baghyi, atau istilah lain yang penggunaannya sering terdengar dari mulut para ulama.

Sejarah Tuduhan-tuduhan

Sebenarnya bukan hal yang aneh jika para pejuang kebenaran yang menempuh jalan yang berat dalam perjuangan mereka selalu dituding sebagai ekstrimis. Para Rasul yang membebaskan pengahambaan manusia terhadap manusia juga seringkali mendapat cercaan yang sama, bahkan tidak jarang mereka harus dianiaya, dikejar-kejar bahkan dibunuh dengan kejam. Sehingga merupakan hal yang enteng jika di zaman ini bentuk penolakan tersebut hanya berupa cercaan dan tuduhan.

Sejak zaman hidupnya para shahabat hingga masa kini, orang-orang yang teguh dengan kebenaran selalu mendapatkan tuduhan-tuduhan jelek. Berikut ini beberapa macam tuduhan jelek yang dilabelkan kepada pejuang kebenaran hingga masa kini :

1. Nawasib

Nawasib, bentuk jamak dari Nasib, adalah julukan yang diberikan kepada orang-orang yang berani melaknat khalifah rasyidah terakhir, yakni Imam Ali radhiyallahu anhu. Sudah pasti golongan Nawasib bukanlah bagian dari ahlussunnah. Akan tetapi oleh beberapa kalangan ahlul bid’ah seperti mayoritas kalangan syiah, memasukkan orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka dalam masalah imamah sebagai Nawasib. Julukan ini sangatlah batil. Bahkan banyak shahabat Rasulullah yang berada dalam al-jamaah mendapatkan vonis ini, yang berkonsekuensi pada anggapan bahwa Nawasib lebih hina daripada kufur asli dari kalangan ahli kitab dan musyrikin.

2. Mujassimah

Julukan ini diberikan kepada orang-orang yang berani menggambarkan Allah sebagaimana makhluk. Orang-orang nasrani adalah salah satu contoh yang jelas dari golongan ini. Mereka berani menyematkan sifat-sifat makhluk kepada Allah. Akan tetapi dakwah tauhid yang bersumber dari pemahaman salaf, terutama dalam masalah asma wa shifat, seringkali dicap dengan cap seperti ini. Para Asyairah yang ekstrim dalam pemikiran mereka menjuluki ulama seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyyim dengan gelaran batil ini karena para penganut madzhab salaf menyerahkan segala urusan asma wa shifat kepada nash yang ada. Tidak jarang para penganut manhaj falsafi ini menghina dan menjelek-jelekkan ulama yang menempuh manhaj qurani secara serampangan. Kedengkian mereka seringkali membuat mereka menolak segala buah karya ulama-ulama qurani tersebut.

3. Wahabi

Sebenarnya secara bahasa sebutan ini memiliki arti yang sangat indah. Tetapi dalam arti secara istilah, julukan ini diberikan kepada serombongan ulama Najd yang menyegarkan kembali pemikiran bertauhid masyarakat Islam pada zamannya. Golongan yang digawangi oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ini tidak pernah melabeli diri mereka dengan embel-embel yang baru. Secara pemikiran, mereka kembali kepada pemahaman salaf secara keseluruhan dan mengikuti ulama-ulama yang telah mendahului mereka seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Gelaran Wahabi ini diberikan oleh para penyembah kubur, penjajah imperialis, ahli bid’ah dan penyeru undang-undang Eropa, karena memang dakwah Najdiyah ini menyeru untuk menjauhi syirik, baik dari segi qubur maupun dustur.

4. Takfiri

Secara umum pada abad modern ini, tokoh yang dianggap bertanggung jawab dalam konsep takfir adalah Sayyid Quthb. Beliau dan orang-orang yang sepemahaman beranggapan bahwa setiap pemerintahan yang tidak mau menerapkan Islam dalam sistemnya adalah kufur. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Sebab takfir yang mereka dengungkan adalah sebagian dari manhaj Islam. Orang-orang yang menuduh demikian pada asalnya ingin berhati-hati dengan sikap takfir yang dilakukan oleh Khawarij pada masa dahulu. Namun lama kelamaan para penuduh menjadi bersifat anti dengan takfir, padahal takfir sendiri adalah salah satu kaidah dalam Islam, dan takfir ahlussunnah past berbeda dengan takfir Khawarij.

5. Irhabiyyun

Irhabiyyun atau Teroris adalah julukan yang kini banyak disematkan pada para mujahidin yang melawan pemerintahan kafir, atau yang menganjurkan pada hal itu. Julukan ini ternyata sudah ada semenjak perang Afghanistan di akhir 1980-an. Syaikh Abdullah Azzam pernah menyinggung hal ini dalam pidatonya, dan beliau sendiri tidak terlalu keberatan jika tuduhan ini disematkan pada mujahidin yang selalu meneror keberadaan ahlul harbi dimanapun berada.

Secara umum tanggapan para tertuduh, yakni para mujahidin dan penyeru kepadanya tidak terlalu berkeberatan dengan tuduhan-tuduhan batil yang dialamatkan kepada mereka. Bahkan dengan kondisi tertentu, mereka menerima dan setuju dengan nisbat-nisbat tersebut kepada mereka. Hal ini berbeda dengan harokah-harokah tertentu yang seringkali berkeberatan dengan tuduhan-tuduhan yang dialamatkan dari musuh-musuh Islam pada mereka.

Salah satu contohnya adalah tentang tuduhan wahabi kepada sebuah harokah politik Indonesia yang berafiliasi dengan jamaah Ikhwanul Muslimin. Khalayak yang paham dengan kondisi dakwah pasti sangat paham dengan harokah ini. Seperti yang diketahui bahwasanya tuduhan wahabi sebenarnya bukanlah tuduhan buruk. Akan tetapi jamaah ini sangat tegas menolak dikaitkan dengan perjuangan ulama-ulama najdiyah. Bahkan mereka memesan rubrik khusus dalam surat kabar nasional hanya untuk menjelaskan bahwa mereka bukanlah wahabi, dan tidak ingin dikait-kaitkan dengannya. Padahal sangat jelas bahwa banyak aktivis-aktivis jamaah ini terdidik dari ulama-ulama yang mengikuti pemahaman dakwah najdiyah. Jamaah ini seolah malu dengan cap kolot dan ekstrim dengan tuduhan wahabi tersebut.

Tuduhan dan Sedikit Jawaban

Cap teroris atau dalam bahasa arabnya adalah irhaby dapat diartikan menjadi dua maksud. Maksud yang pertama adalah bersepakat dengan musuh-musuh Islam dalam menamai mujahidin dan beranggapan bahwa keberadaan para irhabi tersebut mengganggu ketertiban dunia. Maksud-maksud yang seperti ini sebenarnya hanya akan menyenangkan musuh-musuh Islam. Kutukan-kutukan mereka kepada aksi-aksi mujahidin tidak lain hanyalah menjadi justifikasi musuh-musuh Islam dan kaum awam untuk semakin membenci mujahidin. Hal ini akan semakin para jika para penuduh tersebut turut membantu melemahkan semangat mujahidin atau bahkan membantu memburu keberadaan mujahidin. Sebab dalam hal ini telah terjadi kekacauan dalam masalah al-wala wal baro’.

Dalam kekacauan ini setidaknya diambil dua poin :

  1. Para penuduh ini sepakat dengan orang-orang kafir dan lebih memilih jalan Yahudi dan Nasrani dalam menghukumi keberadaan mujahidin. Mereka lebih membenci mujahidin dan lebih setuju dalam memberangus mereka daripada memberangus Yahudi serta Nasrani. Bagaimana mungkin mereka menghujat pejuang-pejuang Islam, padahal kedudukan orang yang berperang di dalam jalan Allah telah diterangkan dalam al-Quran :

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim (QS at-Taubah : 19)

  1. Mereka-mereka yang berani mengambil resiko dalam membantu memusuhi atau bahkan menangkapi mujahidin telah dijamin statusnya dalam Islam. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menerangkan bahwa salah satu pembatal keislaman adalah tolong menolong dengan orang kafir dalam memusuhi kaum muslimin. Sebagaimana diterangkan dalam al-Quran :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(QS al-Maidah : 51)

Oleh sebab itu Islam melarang keras bentuk tolong menolong, persahabatan, perwalian dan kesepakatan memerangi muslim dengan orang-orang kafir, serta menjadikannya sebagai amalan yang membatalkan iman.

Maksud yang lain adalah meyakini bahwa memang teror itu telah disyariatkan dalam Islam sebagai bagian dari jihad fii sabilillah. Sehingga memang mujahidin adalah golongan yang bersungguh-sungguh dalam menjalankan syariat tersebut. Syaikhul Mujahid Abdullah Azzam menegaskan hal ini dalam pernyatannya: “Saudara-saudara, kami ajak pemuda-pemuda Islam kembali mengikuti ajaran Muhammad SAW dan mencontohi apa yang telah beliau laksanakan. Dan kami ajak menuju kemari datang kelembah-lembah dan pegunungan ini, supaya hati mereka menjadi jernih kembali dan iman mereka bertambah mantap. Nyatakan kepada orang kafir dan salibis, bahwa kami adalah teroris, karena teror itu adalah sebuah kewajiban yang tercantum dalam Kitabullah. Dunia timur dan barat harus tahu bahwa kita adalah teroris dan ekstrim. Itu tercantum dalam surat Al-Anfal ayat 60:

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).

Jadi menteror musuh-musuh Allah adalah sebuah kewajiban dari Allah Subhanahu Wata’ala.”

Begitulah keberanian para pejuang Islam yang sejati. Mereka tidak ragu untuk mengakui bahwa sunnah merupakan hal yang berat dan banyak dibenci oleh orang-orang kafir. Mereka tidak takut juga dengan tuduhan berlebih-lebihan yang diberikan oleh kalangan yang mencoba menutupi kepada ummat tentang syariat-syariat berat dalam Islam. Sebagaimana Imam Syafii yang tidak taku dengan tuduhan rafidhah, begitu pula para mujahidin. Mereka tidak takut dengan tuduhan khawarij, sebab beberapa kesamaan dengan ahlul bid’ah seperti dalam masalah takfir, tidak membuat syariat tersebut serta merta terhapus.

Pada akhirnya perlu diulang-ulang dan dicamkan dalam benak setiap kaum muslimin bahwa hendaknya ummat berpandai-pandai memilih kawan dan lawan. Sebab loyalitas adalah bagian dari aqidah Islam. Barangsiapa terpeleset di dalamnya dapat pula mengeluarkan dari keimanan.

Bahan bacaan :

Al-Quranul Karim

Abdul Aziz, Abdul Qodir. 2001, Terorisme Dalam Timbangan Islam, tanpa kota : Maktab Nidaul Jihad

Al-Ulwan, Sulaiman bin Nashir. 2000, Penjelasan Tentang Pembatal Keislaman, Solo : At-Tibyan

At-Tinjuluni, Mukhlas. tanpa tahun, Koreksi Majalah Asy-Syariah, tanpa kota : tanpa penerbit

At-Tinjuluni, Mukhlas. tanpa tahun, Madzhab-Bermadzhab dan Wahabi, tanpa kota : tanpa penerbit

Bin Ladin, Usamah. tanpa tahun, Komando Al-Qaidah atas Perang Salib, tanpa kota : tanpa penerbit

Zain, Abdullah. 2007, Biarkan Syiah Bercerita Tentang Agamanya, Yogyakarta : Pustaka Muslim

dan dari beberapa sumber lain.



5 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Barangkali wacana berikut menambah keyakinan kita untuk membela kaum mujahidin yang sedang berjuang melawan thaghut

    Jauhilah Thaghut!

    Allah SWT berfirman:
    ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت
    Dan sungguh benar-benar Kami utus seorang rasul pada setiap umat, (dengan membawa seruan): ”Mengabdilah kepada Allah dan jauhilah thaghut”

    Mengabdi hanya kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia. Untuk tujuan itu pulalah, Allah mengutus para rasul serta menurunkan kitab-kitab-Nya. Manusia harus mengabdi kepada Allah serta menjauhi seluruh bentuk pengabdian kepada semua jenis thaghut.
    Sekelompok orang memahami bahwa thaghut adalah kuburan-kuburan dan berhala-berhala yang disembah-sembah, pohon-pohon yang dikeramatkan, batu-batu yang dianggap angker, para dukun dan tukang ramal. Ketika menerangkan makna ’thaghut’, mereka menjelaskan bahwa kaum muslimin harus menjauhi perbuatan menyembah-nyembah dan mengagung-agungkan benda-benda itu, atau datang dan meminta tolong kepada dukung atau tukang ramal.
    Ketika ada beberapa orang mengatakan bahwa pembuat hukum atau undang-undang selain Allah dan Rasul-Nya serta penguasa yang memberlakukannya juga termasuk thaghut, mulut-mulut berbisa mereka segera mengeluarkan kata-kata beracun: ’itu adalah paham khawarij, jama’ah takfir’, ’mereka adalah orang-orang dungu, jauh dari ilmu dan ulama ahlussunnah’, ’mereka adalah orang-orang bersemangat tapi bodoh, ’anjing-anjing neraka’ . . . mereka . . mereka. . .dan mereka . . .’.
    Apakah makna thaghut sebenarnya?
    Ahlussunnah tidak menafikan makna thaghut yang dipahami sekelompok orang di atas. Benar, bahwa batu-batu, berhala, kuburan, pohon dan benda-benda mati lainnya yang dikeramatkan dan disembah-sembah adalah thaghut. Tidak salah pula, bahwa para dukun dan tukan ramal adalah thaghut.
    Namun, membatasi pengertian ’thaghut’ pada benda-benda dan sosok-sosok tersebut adalah kesalahan fatal!
    قال أبو جعفر: والصواب من القول عندي في”الطاغوت”، أنه كل ذي طغيان على الله، فعبد من دونه، إما بقهر منه لمن عبده، وإما بطاعة ممن عبده له، وإنسانا كان ذلك المعبود، أو شيطانا، أو وثنا، أو صنما، أو كائنا ما كان من شيء.( تفسير الطبري – (ج 5 / ص 419( – المكتبة الشاملة ، المصدر الثاني)

    Abu Ja’far (Ath-Thabari) berkata: “Menurutku, pendapat yang benar dalam soal thaghut adalah bahwa ia adalah setiap hal yang melampau batas terhadap Allah; ia disembah selain-Nya, baik penyembahnya itu dipaksa olehnya atau menyembah dengan suka rela. Thaghut yang disembah itu bisa berupa manusia, setan, patung, berhala, maupun yang lainnya”
    Pada ayat فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد اشتمسك بالعروة الوثَْْقي, Ibnu Katsir mengatakan saat menanggapi pendapat Umar bin Khattab yang mengatakan bahwa thaghut adalah setan:
    ومعنى قوله في الطاغوت: إنه الشيطان قوي جدًّا فإنه يشمل كل شر كان عليه أهل الجاهلية، من عبادة الأوثان والتحاكم إليها والاستنصار بها (تفسير ابن كثير – (ج 1 / ص 683) المكتبة الشاملة ، المصدر الثاني)
    Artinya:
    Pendapatnya bahwa thaghut adalah setan adalah pendapat yang kuat sekali. Sebab, setan sudah mencakup seluruh kejelekan yang dilakukan orang-orang jahiliyah, berupa penyembahan berhala, berhukum kepadanya, dan meminta tolong kepadanya.
    Imam Mujahid mengatakan:
    الطاغوت : الشيطان في صورة إنسان يتحاكمون إليه ، وهو صاحب أمرهم (تفسير ابن كثير – (ج 2 / ص 334) المكتبة الشاملة ، المصدر الثاني )
    Artinya:
    Thaghut adalah setan dalam bentuk manusia, yang orang-orang berhukum kepadanya, dan ia adalah pengendali urusan mereka.

    Maksud perkataan Mujahid tersebut adalah bahwa setan berwujud manusia yang menjadi rujukan orang-orang dalam berhukum, dan ia diberi hak oleh mereka untuk membuat hukum yang mengatur kehidupan mereka adalah thaghut.
    Dalam I’lamul Muwaqqi’ien (1/50), Ibnul Qoyyim mengatakan:
    الطاغوت كل ما تجاوز به العبد حده : من معبود أو متبوع أو مطاع. فطاغوت كل قوم : من يتحاكمون إليه غير الله و رسوله، أو يعبدونه من دون الله أو يتبعونه على غير بصيرة من الله أو يطيعونه فيما لا يعلمون أنه طاعة لله.
    Thaghut adalah setiap hal yang menyebabkan seorang hamba melampau batas, baik berupa sesuatu yang diabdi, diikuti atau ditaati. Thaghut suatu kaum adalah orang yang mereka jadikan rujukan hukum selain Allah dan Rasulnya, atau orang yang mereka abdi selain Allah, atau orang yang mereka ikuti tanpa petunjuk dari Allah atau orang yang mereka taati dalam hal yang tidak mereka ketahui sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

    Menurut defenisi Ibnul Qoyyim di atas, thaghut memiliki tiga jenis. Pertama, ia adalah sesuatu yang dijadikan rujukan hukum selain Allah dan Rasul-Nya. Kedua, ia adalah sesuatu yang diabdi selain Allah atau diikuti tanpa petunjuk dari Allah. Ketiga, ia adalah sesuatu yang ditaati dalam hal yang tidak diketahui apakah itu dalam rangka ketaatan kepada Allah atau tidak.
    Dengan demikian, setiap orang atau lembaga selain Allah dan Rasul-Nya yang menjadi rujukan dalam perundang-undangan serta mengatur manusia dengannya, atau keputusannya menjadi hukum yang harus dijalankan umat manusia meski bertentangan dengan syari’at adalah termasuk THAGHUT. Lembaga Legistatif (DPR/MPR) adalah thaghut. Para hakim yang menghukumi dengan undang-undang buatan manusia, UUD 45, KUHP, KUHAP adalah thaghut. Dengan kata lain, setiap orang yang mengadili dengan selain hukum Allah (syari’at Islam) adalah thaghut!
    Di zaman sekarang ini, thaghut dalam wujud di atas tidak semuanya terang-terangan mengaku sebagai orang kafir, apalagi di negeri-negeri yang mayoritas penghuninya kaum muslimin. Banyak thaghut ber-KTP Islam, kadang shalat, kadang puasa. Mereka berdasi, makan nasi, ada juga yang sudah haji. Nama-nama mereka pun juga Islami: Yusuf, Abdurrahman, Hidayat, Amin, dll. Ada juga yang bergelar lc. Tapi mereka adalah komplotan thaghut! Perampas hak prerogatif Allah, hak membuat hukum dan perundang-perundangan yang mengatur kehidupan umat manusia!
    Allah mendustakan keimanan orang-orang yang berhukum kepada thaghut. Ia mengatakan
    ألم تر إلى الذين يزعمون أنهم آمنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغوت وقد أمروا أن يكفروا به ويريد الشيطان أن يضلهم ضلالا بعيدا
    Artinya:
    Tidakkah kaum melihat kepada orang-orang yang mengklaim bahwa mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dan apa yang diturunkan sebelummu (kitab-kitab samawi terdahulu), mereka ingin berhukum kepada thaghut, padahal mereka disuruh untuk kafir kepadanya. Dan, syaithanpun ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh
    Maksudnya, orang-orang yang mengaku-ngaku beriman kepada Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya, namun masih memiliki keinginan untuk berhukum kepada thaghut yang membuat undang-undang atau hukum untuk mengatur manusia, maka dustalah pengakuan tersebut. Mereka pada hakekatnya adalah orang-orang yang kafir kepada Allah, dan syaithan ingin menyesatkan mereka jauh-jauh. Bila mereka mati dalam keadaan seperti itu dan belum bertaubat, berarti mereka mati kafir dan akan kekal di neraka selama-lamanya
    Allah SWT dengan tegas menyatakan bahwa thaghut adalah wali orang-orang kafir. Berwali atau memberikan loyalitas kepadanya berarti kafir. Berhukum kepada hukumnya berarti beriman kepada thaghut. Beriman kepada thaghut sama dengan kafir kepada Allah.
    الله ولي الذين آمنوا يخرجهم من الظلمات إلى النور والذين كفروا أولياءهم الطاغوت يخرجهم من النور إلى الظلمات
    Artinya:
    Allah adalah wali orang-orang beriman. Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju kepada cahaya. Sedang orang-orang kafir, wali-wali mereka adalah thaghut. Ia mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kepada kegelapan-kegelapan.

    .فمن يكفربالطاغوت و يؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقي لا نفصام لها و الله سميع عليم
    Artinya:
    Maka barang siapa yang kafir terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia berpegang dengan ikatan yang kuat, tidak ada keterputusan baginya dan Allah Maha Mendengar lagi Mengetahui.
    Yang dimaksud ikatan yang kuat di atas adalah Islam. Ada lagi ahli tafsir yang mengatakan iman. Yang lain berpendapat kalimat لا إله إلا الله . Namun, tidak ada pertentangan antara pendapat-pendapat itu. Sebab, Islam adalah Iman dan ia adalah kalimat لا إله الا الله. Orang yang tidak kafir terhadap thaghut berarti bukan orang Islam, tidak punya keimanan dan tidak ber-لا إله إلا الله -. Dengan kata lain, ia adalah orang yang kafir kepada Allah.
    * * *
    Allah menvonis orang-orang ahli kitab sebagai orang-orang yang menyekutukan Allah (musyrik) karena mereka mempertuhankan para rahib dan pendeta dalam bentuk mengikuti hukum halal-haram yang ditetapkan para rahib dan pendeta itu. Allah mengatakan
    إتخذوا أحبارهم و رهبانهم أربابا من دون الله و المسيح ابن مريم و ما أمروا إلا ليعبدوا إلها واحد لا إله إلا هو سبحانه عما يشركون
    Artinya:
    Mereka menjadikan rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan juga Al-Masih bin Maryam. Dan mereka tidak diperintah kecuali agar mereka mengabdi kepada Sesembahan Yang Satu. Tidak ada tuhan selain-Nya. Maha suci Dia dari apa-apa yang mereka sekutukan.
    Tidak ada perselisihan di kalangan ahli tafsir, bahwa penyembahan orang-orang ahli kitab terhadap rahib dan pendeta tersebut adalah dalam bentuk mengikuti atau mematuhi hukum atau undang-undang soal halal haram yang mereka tetapkan. Karena kepatuhan seperti inilah, orang-orang ahli kitab disebut sebagai orang-orang yang menyekutukan Allah atau musyrikin.
    Fakta bahwa lembaga legistatif merupakan lembaga yang berfungsi untuk menetapkan hukum atau undang-undang untuk manusia, tidak dapat dibantah seorang pun. Wewenang untuk membuat undang-undang yang diberikan kepada lembaga ini tidak dibatasi dengan Al-Qur’an dan As-sunnah. Lembaga ini diberi hak untuk menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya atau mengharamkan apa yang keduanya halalkan. Komplotan thaghut yang berkumpul di lembaga tersebut sama persis dengan para rahib dan pendeta ahli kitab, bahkan lebih parah. Karena itu, patuh dan ridha dengan hukum dan undang-undang yang mereka tetapkan adalah kekafiran dan kesyirikan. Begitu juga dengan kepatuhan kepada hukum buatan manusia lainnya.
    Demikian juga dengan orang-orang yang secara sadar mengangkat mereka sebagai anggota lembaga kufur itu, baik melalui pemilihan umum atau jalan lainya. Mengangkat orang sebagai anggota legistatif sama halnya mengangkat orang sebagai tuhan. Perbuatan itu jelas kekafiran besar.
    Tentang menghalalkan apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan atau mengharamkan apa yang keduanya halalkan, Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Majmu’ Fatawa (3/267):
    مَتَي حَلَّلَ اْلحَرَامَ الْمُجْمَعَ عَلَيْهِ أَوْ حَرَّمَ الْحَلاَلَ الْمُجْمَعَ عَلَيْهِ أَوْ بَدَّلَ الشَّرْعَ الْمُجْمَعَ عَلَيْهِ كَانَ كَافِرًا مُرْتَدًّا بِاتِّفَاقِ اْلفُقَهَاءِ
    Artinya:
    Kapan orang itu menghalalkan barang haram yang sudah menjadi ijma’ (kesepakatan ulama) atau mengharamkan barang halal yang sudah menjadi ijma’, atau mengganti ajaran syari’at yang sudah menjadi ijma’, maka ia kafir murtad atas dasar kesepatakan para fuqaha`
    Mereka menghalalkan kemurtadan, riba, perzinaan atas dasar suka sama suka, homoseks, dan lain sebagainya. Mereka bahkan mewajibkan loyalitas kepada pancasila, kesetiaan kepada UUD 45, paham demokrasi, nasionalisme serta berbagai jenis kekafiran lainnya. Di saat yang sama, mereka mengharamkan penegakan hukum Allah di bumi Allah.
    * * *
    Kekafiran para pembuat hukum dan undang-undang yang mengatur kehidupan manusia selain Allah dan Rasul-Nya, serta kekafiran negara atau orang-orang yang menghukumi dan berhukum kepada undang-undang itu, sangat jelas bagai matahari di siang bolong. Hal itu tidak tersamarkan kecuali bagi orang yang mati mata hatinya. Hal itu berdasarkan nash-nash qath’ie (yang pasti kebenarannya) dari Al-Qur’an dan hadits. Apa yang disebutkan di atas adalah sedikit dari nash-nash yang banyak tersebut.

    • sipp banget dehh….tak pasang link antum ya akh….

  2. akh sekarsidan, minta izin copas link nya y?

    • silahkan mengkopi apapun di sini, (lebih afdol cantumkan sumber ^_^)

  3. Thanks for sharing your thoughts. I really appreciate your efforts and I will be waiting for your next write ups
    thank you once again.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: