Mencoba Mengambil Hak Tuhan

May 18, 2010 at 8:42 am | Posted in aqidah, islam, umum | 1 Comment

Jangan mencoba menjadi Tuhan!!!”

“Wah, ada yang mencoba mengambil alih hak Tuhan nih!!”

Kalimat-kalimat di atas adalah kalimat-kalimat yang biasa meluncur dari kalangan umum ketika berkomentar tentang tindakan-tindakan “kontroversial” yang dilakukan oleh ulama ataupun ormas islam. Orang awam yang memiliki sedikit kecondongan kepada liberalisme dibandingkan ideologi keislaman relatif memahami tindakan-tindakan yang dianggap kontroversial dengan mengemukakan wacana-wacana seperti di atas. Kasus-kasus yang sering dicibir dengan opini semacam itu biasanya adalah masalah hisbah (pemberantasan maksiat) atau vonis sesat dari MUI dan ormas islam lain terhadap pemahaman menyimpang.

Munculnya pemahaman tersebut di kalangan masyarakat disebabkan karena lemahnya pemahaman tentang tauhid dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengenal Allah, Rasulullah dan islam. Hal ini diperparah dengan merebaknya pemahaman liberalisme dan sekulerisme serta serbuan dari “intelektual” yang mengaku membawakan islam secara liberal. Sekulerisme ini sangat mudah diterima oleh sebagian kalangan karena banyak dari adat istiadat dan budaya masyarakat tersebut tidak sesuai dengan syariat islam, dan sering terjadi perdebatan antara kaum adat dan kaum agamis/paderi.

Tentang Tauhid

Untuk terhindar dari model-model kerancuan seperti di atas, dibutuhkan pemahaman yang kuat mengenai tauhid. Hal ini adalah sebagai landasan bagi masyarakat untuk mengenal Allah berdasarkan dalil qur’an dan sunnah. Ibnul Qayyim mengatakan, “dasar kesyirikan dan kekufuran adalah berkata tentang Allah tanpa ilmu. Orang musyrik mengklaim bahwa orang yang mengambil sesembahan selain Allah akan mendekatkan dirinya kepada Allah dan memberi syafaat di sisi-Nya, Allah akan mengabulkan permintaannya melalui perantara tadi sebagaimana adanya para perantara bagi raja. Setiap musyrik berkata tentang Allah tanpa ilmu, bukan sebaliknya.” (Madarijus Salikin: 1/ 378)

Ulama banyak berijtihad dalam pembagian tauhid. Namun setidaknya sebagian besar ulama masa kini mengambil pembagian tauhid kepada tiga macam, yakni :

  1. Tauhid Rububiyyah
  2. Tauhid Uluhiyyah
  3. Tauhid Asma wa Shifat

Tauhid Rububiyyah merupakan tauhid yang berisi pengakuan akan eksistensi Allah sebagai pencipta dan pengatur kehidupan di alam semesta. Kaum musyrik dan kafir pun mengakui eksistensi Allah, sehingga bertauhid rububiyyah saja belum cukup untuk menjadikan seseorang tergolong sebagai muslim. Sedangkan Tauhid Uluhiyyah adalah inti dakwah para Rasul. Nabi Nuh alaihissalam bahkan mendakwahkan tauhid ini selama hampir 10 abad. Tauhid Uluhiyyah adalah memurnikan ketaatan dalam beribadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’alaa semata. Yang terakhir adalah tauhid Asma wa Shifat, yang merupakan penetapan akan apa-apa yang telah Allah tetapkan atas dirinya, yang berupa nama ataupun sifat.

Logika Umum Bertentangan Dengan Realita

Ketika suatu majlis ulama ataupun ormas menghasilkan fatwa tentang kesesatan suatu aliran macam Lia Eden dan sejenisnya, terjadi penghembusan opini yang cukup deras bahwasanya ormas tersebut telah manyalahi hak Allah dengan mengkafir-kafirkan atau menyesat-sesatkan. Opini-opini semacam ini adalah hasil pemahaman hati yang teracuni oleh kerancuan berpikir sekuleris. Bahkan tidak jarang pula para mufti tersebut mendapat ejekan yang sifatnya jorok, seperti dalam kasus-kasus yang melibatkan film-film berbau porno.

Ketika terjadi suatu masalah dalam bermasyarakat, sudah menjadi tugas para ulama untuk mengeluarkan fatwa. Berikut ini adalah beberapa syarat yang dibutuhkan bagi seseorang agar diperbolehkan untuk berfatwa :

  1. Menguasai Al-Qur’an dan ilmu-ilmu Al-Qur’an.
  2. Menguasai Al-hadits (al-sunnah) dan ilmu-ilmu hadits.
  3. Menguasai fiqih, ushul fiqih, ilmu tentang ijma’ dan ikhtilaf ulama.
  4. Menguasai bahasa arab dan ilmu-ilmunya.
  5. Memahami realita masyarakat.

Selain itu ulama tersebut bukan termasuk ulama suu’ yang bersuara berdasarkan kemauan golongan atau perorangan tertentu, akan tetapi haruslah seorang ulama rabbani yang tidak takut dengan cercaan dan siksaan seperti halnya Imam Ahmad, Imam Nawawi ataupun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, rahimahumullah. Berikut adalah beberapa ciri ulama rabbani :

  1. Ikhlas, berbuat semata-mata karena Allah.
  2. Adalah, mengerjakan yang wajib plus sunnah rawatib, serta menjauhi yang haram dan bersopan santun.
  3. Lebih banyak menghasilkan fatwa yang benar daripada yang salah.
  4. Merealisasikan ilmunya dalam tindakan dan amalan sehari-hari
  5. Zuhud
  6. Tawadhu’
  7. Rasa takut yang mendalam kepada Allah.

Seorang mufti (pemberi fatwa) memiliki kewajiban untuk menyampaikan apa-apa yang diketahuinya kepada masyarakat sekaligus memperbaiki penyimpangan akan syariat islam. Memang saat ini sangat sedikit negara yang melibatkan mufti dalam proses pengambilan keputusan. Namun tidak adanya institusi negara yang menaungi eksistensi para mufti tidak menjadi penghalang bagi mufti untuk terus berfatwa dan bukan pula menjadi penghalang bagi kaum muslimin untuk mengikuti fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan, terutama yang telah menjadi ijma atau kesepakatan.

Dan di sini pun terjadi keanehan-keanehan. Ketika pada saatnya para ulama harus memfatwakan haram, sesat, atau kufur terhadap suatu produk, mereka bersuara sumbang dengan mengatakan ulama sok suci, ekstrim, fundamentalis, atau bahkan mencap ormas-ormas tertentu mengambil hak Allah dalam menghukumi. Tetapi suara-suara sumbang itu tidak pernah mengalir kepada para penguasa yang membuat syariat sendiri dan mewajibkan syariat tersebut kepada rakyat. Padahal telah jelas bahwasanya penguasa dan pemikir tersebut telah mengusulkan serta mengganti ketentuan yang telah jelas ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya dengan hawa nafsu mereka sendiri.

Perlu ditekankan kembali bahwa para ulama dan mufti rabbani adalah pewaris nabi. Mereka tidak mungkin menghalalkan ataupun mengharamkan apa-apa yang telah jelas diturunkan oleh Allah. Mereka berfatwa akan hal-hal yang sifatnya masih baru dan itupun cara memustukannya berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah. Hal ini berbeda dengan para penguasa dan pemikir kacau yang mengganti syariat dengan berdasarkan pada akal dan hawa nafsu. Berikut ini adalah beberapa tindakan “menjadi tuhan” ala firaun yang telah dilakukan banyak penguasa pada hari ini, dan tindakan-tindakan tersebut telah menyalahi syariat yang telah jelas ditetapkan hukumnya dalam islam :

  1. Mengganti hukum cambuk dan rajam bagi pezina dengan penjara, atau tidak dihukum jika bukan kasus selingkuh.
  2. Memperbolehkan riba, bahkan membuat perundangan untuk menggalakkan system perdagangan ribawi.
  3. Mengganti hukum potong tangan pada maling dengan hukuman kurungan.
  4. Dan banyak tindakan-tindakan lain yang pada intinya membatasi peran islam hanya di pojok-pojok masjid saja.

Keputusan Allah adalah mutlak dan wajib ditaati. Syariat Islam adalah satu-satunya sumber tata kemasyarakatan yang harus diambil oleh umat Islam. Orang yang menaati syariat selain syariat-Nya telah dihukumi kufur dalam al-Quran :

  1. Dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (QS. Al Kahfi: 26)
  2. Dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (QS. Al An’am: 121)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: Maksudnya, ketika kalian berpaling dari perintah Allah dan syariat-Nya, dan condong kepada perkataan selain-Nya, lalu mendahulukannya daripada syariat Allah, maka ini adalah kesyirikan, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. .” (QS. Al Taubah: 31)

Dari keterangan-keterangan diatas pembaca dapat menyimpulkan sendiri. Siapakah golongan yang mencoba mengambil hak Tuhan. Apakah ulama yang mengambil keputusan dengan mentadabburi quran dan sunnah ataukah para pemikir dan pembuat undang-undang yang merasa lebih jago dari Tuhan dengan tasyri’-nya dan memaksakan peraturan yang mereka buat terhadap umat Islam? [sksd]

Beberapa sumber bahan bacaan :

  1. voa-islam.net; Perbedaan Ahli Tauhid dan Musyrik
  2. annajahsolo.wp.com; Mencari Sosok Ulama Panutan (Anshar Al-Muslimin Publisher)
  3. Jawas, Yazid bin Abdul Qadir. 2008. Prinsip Dasar Islam. Bogor; Pustaka at-Taqwa

gambar :


1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Mantap bgt…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: