Ahlus Sunnah vs Mutakallimin

May 7, 2010 at 7:21 am | Posted in aqidah, islam, sejarah | 1 Comment
Tags:

Dalam berbagai buku-buku pelajaran agama, dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi disebutkan bahwasanya ilmu pembahasan aqidah (antara lain tentang sifat-sifat Allah) dipopulerkan dengan nama ilmu kalam. Ahli ilmu kalam pun biasa dipanggil dengan nama Mutakallimin. Benarkah demikian?

Perlu diketahui bahwasanya mayoritas masyarakat sunni (mengaku ahlus sunnah) di Indonesia dan mungkin banyak di negara-negara muslim lainnya banyak menganut pemahaman aqidah yang disebut dengan Asy’ariyah (Asya’irah) dan Maturidiyah. Mereka adalah golongan yang mencoba membela sunnah dari serangan sempalan Mu’tazilah, namun mengedepankan suatu ilmu pemikiran dan rasio yang banyak dipengaruhi oleh filsafat atau disebut dengan ilmu kalam. Oleh karena itu mereka banyak menyimpang dalam menetapkan sifat-sifat Allah disebabkan penggunaan ilmu kalam tersebut.

Tentu saja hal ini adalah sebuah kesalahan. Segala macam perkataan tanpa ilmu (yang bersumber dari Qur’an dan Sunnah yang diwariskan Rasulullah) dapat menjerumuskan kepada kesyirikan dan kekufuran. Ibnul Qayyim mengatakan, “dasar kesyirikan dan kekufuran adalah berkata tentang Allah tanpa ilmu. Orang musyrik mengklaim bahwa orang yang mengambil sesembahan selain Allah akan mendekatkan dirinya kepada Allah dan memberi syafaat di sisi-Nya, Allah akan mengabulkan permintaannya melalui perantara tadi sebagaimana adanya para perantara bagi raja. Setiap musyrik berkata tentang Allah tanpa ilmu, bukan sebaliknya.” (Madarijus Salikin: 1/ 378)

Ilmu yang menghantarkan kepada pemahaman yang hakiki terhadap makna tauhid dan tuntutannya dan mendorong untuk beramal dan beriltizam (konsisten). Yaitu ilmu yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah, jauh dari teori ahli kalam dan ideologi mereka. Adapun ilmu yang berhenti pada analisa yang tidak mendasar dalam hati sehingga membentuk keyakinan, tidak mendorong untuk iltizam dan beramal, maka tidak berguna sedikitpun baginya, tidak menambah kecuali dosa.

Imam Abu Hanifah, seorang pakar ra’yu/rasio dalam hal fiqh, bahkan menentang penggunaan ilmu kalam dalam memahami Islam. Beliau berkata: “Semoga Allah melaknati Amr bin Ubaid, karena telah merintis jalanuntuk orang-orang yang mempelajari Ilmu Kalam, padahal ilmu ini tidak ada gunanya bagi mereka”. Kepada Abu Yusuf, Imam Abu Hanifah berkata: “Jangan sekali-kali kamu berbicara kepada orang-orang awam dalammasalah ushuluddin dengan mengambil pendapat Ilmu Kalam, karena mereka akan mengikuti kamu dan akan merepotkan kamu”.

I. Perkembangan Filsafat dan Ilmu Kalam dalam Islam

Filsafat bukanlah produk dari pemikiran Islam. Memang beberapa golongan ulama salaf banyak yang menggunakan ra’yu/rasio dalam memutuskan suatu perkara yang sifatnya kontemporer di masa mereka. Mereka disebut sebagai aliran kufah, karena banyak tersebar di Kufah. Berbeda dengan ahli atsar yang mengutamakan nash yang tersebar di Madinah. Contoh ahli ra’yu adalah Nu’man bin Tsabit atau populer disebut dengan nama Imam Abu Hanifah. Akan tetapi metode berpikir yang digunakan beliau bukanlah metode filsafat.

Merebaknya filsafat di alam Islam didukung oleh setidaknya dua faktor. Faktor tersebut antara lain adalah munculnya aliran Mu’tazilah dan impor buku-buku Eropa oleh khalifah Al-Ma’mun.

Mu’tazilah merupakan aliran yang lahir dari pemikiran Washil bin Atha, seorang murid ulama tabi’in, yakni Hasan al-Bashri.  Berbeda dengan Ahlus Sunnah yang tidak mengkafirkan pelaku dosa besar (al-kabaa’ir), ideologi Mu’tazilah berawal dari pernyataan Washil yang menyanggah golongan khawarij (yang mengkafirkan pelaku dosa besar) bahwa pelaku dosa besar bukan beriman dan bukan kafir. Pernyataan inilah yang membuat Washil dan pengikutnya mendapat nama Mu’tazilah (kelompok yang menyempal).

Mu’tazilah merupakan sekte pengagung rasio. Bahkan banyak diantara mereka mengutamakan akal di atas nash dalam menetapkan masalah-masalah aqidah, seperti dalam masalah ashma wa shifat Allah. Mu’tazilah sering menolak nash/dalil naqli dengan alasan bertentangan dengan rasio, atau minimal menafsirkan suatu nash dan melemparkan kepada pengertian lain yang jauh dari pemahaman para shahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in. Banyak juga sub-sekte mu’tazilah berpegang teguh dengan filsafat dan menyebarkan filsafat ke penjuru dunia Islam.

Faktor yang kedua adalah diterjemahkannya literatur-literatur Eropa ke dalam bahasa Arab pada masa al-Makmun, khalifah bani Abbasiyah yang berkuasa pada masa 811 hingga 833 masehi. Khalifah al-Makmun juga adalah seorang penganut mu’tazilah, bahkan beliau adalah penguasa yang mempelopori pemaksaan pendapat kemakhlukan Al-Quran. Hal inilah yang membuat Imam besar ahlus sunnah Ahmad bin Hanbal dipenjara dan terisolir karena tekanan penguasa. Pendirian al-Makmun inilah yang membawa Islam ke dalam dunia filsafat, dan dari proses inilah lahir filsuf Islam kenamaan pertama yakni al-Kindi (806-875 M). Al-Kindi sempat menjadi guru di kerajaan Abbasiyah, sebelum akhirnya al-Mutawakkil (847-861 M) memecatnya dari istana dan mengembalikan Ahlus Sunnah sebagai manhaj negara serta membebaskan ulama Ahlus Sunnah.

Munculnya aliran rasionalis mu’tazilah dan kebijakan al-Makmun yang berpihak pada filsafat pada umumnya dan mu’tazilah pada khususnya ini semakin menyuburkan pemikiran rasional yang berlebihan. Akal dijadikan sebagai sumber utama dalam mengambil jalan hidup. Bahkan diantara mereka ada yang sangat berlebihan dalam bertumpu pada akal hingga menolak kenabian.

Terusirnya al-Kindi dari istana khalifah bukanlah akhir dari gerak-gerik filsafat dalam Islam. Pembicaraan dan diskusi mengenai filsafat hanya berhenti di Baghdad saja. . Akan tetapi, diluar Baghdad, di kota-kota propinsi otonom, khususnya di Aleppo dan Damaskus, kajian-kajian filsafat tetap giat dilakukan, sehingga melahirkan banyak filosof besar yang banyak dari mereka diakui dunia, antara lain  Ibnu Rawandi, Fakhr al-Razi, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, dan Ibnu Rusyd.

Berikut sedikit keterangan mengenai filsuf-filsuf tersebut :

1. Al-Kindi (806-875)

Al-Kindi adalah salah seorang filsuf kenamaan pertama dalam islam. Pernah menjadi guru istana kerajaan Abbasiyah sebelum diusir pada masa al-Mutawakkil. Dalam kata pengantar buku Filsafat Pertama (al-Falsafat al-Ula), yang dipersembahkan untuk khalifah al-Mu`tashim (833-842), al-Kindi menulis tentang objek bahasan dan kedudukan filsafat, serta ketidaksenangannya pada orang-orang yang anti filsafat, yakni para pendukung fuqoha. Namun, karena begitu dominannya kaum “bayani” (fuqaha) ditambah masih minimnya referensi filsafat yang telah diterjemahkan, apa yang disampaikan al-Kindi tidak begitu bergema. Meski demikian, al-Kindi telah memperkenalkan persoalan baru dalam pemikiran Islam; kesejajaran antara pengetahuan manusia dan Tuhan, dan mewariskan persoalan filsafat yang terus hidup sampai sekarang; (1) penciptaan alam semesta, bagaimana terjadinya, (2) keabadian jiwa, apa artinya dan bagaimana pembuktiannya, (3) pengetahuan Tuhan yang partikuar, apa ada hubungannya dengan astrologi dan bagaimana terjadinya.

2. Al-Razi (865-925)

Abu Bakar ar-Razi, atau oleh pengagumnya populer dengan nama Fakhruddin, adalah salah satu filsuf yang sangat radikal dalam memposisikan akal. Menurut al-Razi, semua pengetahuan –pada prinsipnya- dapat diperoleh manusia selama ia menjadi manusia. Akal atau rasiolah yang menjadi hakekat kemanusiaan, dan akal adalah satu-satunya alat untuk memperoleh pengetahuan tentang dunia fisik dan tentang konsep baik dan buruk; setiap sumber pengetahuan lain yang bukan akal hanya omong kosong, dugaan belaka dan kebohongan.

Al-Razi menolak kenabian dengan tiga alasan, antara lain: (1)bahwa akal telah memadai untuk membedakan baik dan buruk, berguna dan tidak berguna. Dengan rasio manusia telah mampu mengenal Tuhan dan mengatur kehidupannya sendiri dengan baik, sehingga tidak ada gunanya seorang nabi. (2) Tidak ada pembenaran untuk pengistimewaan beberapa orang untuk membimbing yang lain, karena semua orang lahir dengan tingkat kecerdasan yang sama, hanya pengembangan dan pendidikan yang membedakan mereka, (3) bahwa ajaran para nabi ternyata berbeda. Jika benar bahwa mereka berbicara atas nama Tuhan yang sama, mestinya tidak ada perbedaan.

3. Ibnu Rawandi (lahir 825 M)

Ibnu Rawandi adalah salah satu filsuf yang menolak kenabian. Ia menolak adanya kenabian, setelah belajar filsafat. Menurutnya, prinsip kenabian bertentangan dengan akal sehat, begitu pula tentang syareat-syareat yang dibawanya, karena semua itu telah bisa dicapai oleh akal; akal telah mampu mengapai apa yang benar dan salah, yang baik dan jahat dan seterusnya.

4.  Al-Farabi (870-950 M)

Dalam filsafat Islam, ia dikenal sebagai guru kedua (al-muallim ats-tsani) setelah Aristoteles yang disebut sebagai guru pertama (al-muallim al-awal). Dikenal demikian karena meletakkan ajaran Aristoteles sebagai landasan bagi filsafat Islam. Ia berpendapat bahwa filsafat burhani (demonstratif) lebih tinggi kedudukannya dibanding ilmu agama. Dalam hierarki keilmuan menurut Farabi, ilmu-ilmu filsafat (matematika, politik dan sebagainya) lebih tinggi dibanding ilmu agama dan bahasa.

5. Ibnu Sina (980-1036 M)

Dalam kaitannya dengan kenabian, Ibnu Sina berusaha membuktikan adanya kenabian, dengan menyatakan bahwa kenabian merupakan bagian tertinggi dari sukma yang disebut akal berbeda dengan al-Farabi yang menyatakan bahwa kenabian adalah suatu bentuk imajinasi tertinggi. Dengan prestasi-prestasi yang hebat dalam filsafat, Ibn Sina kemudian diberi gelar Guru Utama (al-Syaikh al-Rais). Ibnu Sina sendiri berasal dari keluarga Syi’ah Isma’iliyah. Selain dikenal sebagai ahli filsafat, ia dikenal pula sebagai salah satu peletak dasar ilmu kedokteran modern. Ibn Sina membagi tiga bagian jiwa manusia : Jiwa alami (nabati), jiwa hewani (hayawani) dan jiwa rasional, Tiap bagiannya mempunyai tujuannya (entelechy) masing-masing dan mengatur daya-daya yang melakukan khusus.

6. Ibnu Rusydi (1126-1198 M)

Ibnu Rusydi selain dikenal sebagai seorang fuqoha dari Andalusia, juga dikenal sebagai filsuf. Tidak seperti al-Razi atau Ibnu Rawandi, beliau dikenal mengkompromikan filsafat dan agama. Ibnu Rusydi dikenal dalam “bantah-bantahan” dengan Abu Hamid al-Ghozali, seorang ulama penganjur tasawuf. Imam Ghozali banyak menganjurkan untuk menjauhi filsafat, terutama dalam risalahnya yang berjudul  Tahafut al-Falasifah. Untuk membantah al-Ghozali, Ibnu Rusydi menulis Tahafut at-Tahafut.

Dalam membela pemikiran filsafat, ia sampai pada kesimpulan bahwa hanya filosof saja yang mengetahui rahasia-rahasia al-Quran dan yang berhak untuk mentakwilkannya. Ibnu Rusyd menganggap bahwa kritikan Ghazali terhadap filsafat muncul karena Ibnu Sina tidak mampu menjelaskan filsafat sebagaimana yang dijelaskannya. Dengan itu, sebenarnya, bukan saja Ibnu Rusyd melakukan menjawab kritikan Ghazali tapi sekaligus mengkritik Ibnu Sina. Al-Ghazali sendiri mengkritik Ibnu Sina karena ada tiga hal kesalahan Ibnu Sina yang dapat mendatangkan kekafiran : keyakinan akan qidamnya alam, pengingkaran akan ilmu Allah atas obyek-obyek parsial dan kasuistik, pengingkaran terhadap hari kebangkitan manusia dengan jasad. Meninggalnya Ibnu Rusydi dianggap sebagai meninggalnya filsafat dalam dunia Islam baik di bagian timur, maupun barat.

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Maaf, saya masih amat bingung dgn judul di atas, apakah para pendiri aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah, yg telah melahirkan berbagai pemahaman aqidah bagi aliran Sunni / Aswaja, juga bukan ahli ilmu kalam (Mutakallimin)?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: