Ahlus Sunnah vs Mutakallimin (2)

May 7, 2010 at 7:30 am | Posted in aqidah, islam, sejarah | 5 Comments

II. Pemahaman Ahlus Sunnah Mengenai Filsafat

Ahlus Sunnah merupakan golongan pokok dalam Islam. Ahlus Sunnah bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih berdasarkan pemahaman para Shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka. Mendahulukan nash diatas akal. Banyak dalil yang menuntut kita untuk selaras dengan para Shahabat dan orang yang mengikuti mereka.

Berikut ini beberapa dalilnya :

  1. Dari Abdullah bin Mas’ud RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda , “Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini, kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan dating suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya” (Mutaffaq Alaih)
  2. Potongan Hadits dari al-Irbadh bin Sariyah RA, “……Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Pegang erat-erat dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Ahmad, HR Abu Dawud, dishahihkan dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Ibnu Hazm berkata, ”Ahlus Sunnah adalah pengikut kebenaran. Selain mereka adalah ahlul bid’ah. Ahlus Sunnah adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dari kalangan tabi’in, lalu para Ulama Hadits, lalu para Ulama Fikih dari satu generasi ke generasi selanjutnya sampai hari ini dan juga masyarakat secara umum yang mengikuti mereka baik di belahan bumi barat maupun timur.”

Dari sini jelas bahwa Ahlus Sunnah adalah setiap muslim yang mengikuti jejak para sahabat. Ahlus Sunnah bukan monopoli golongan tertentu. Tidak benar bila sebagian kelompok umat Islam menganggap dirinya sebagai satu-satunya Ahlus Sunnah sedangkan kelompok lainnya bukan Ahlus Sunnah. Ahlus Sunnah juga bukan sekedar nama, namun lebih dari itu, ia merupakan manhaj, jalan hidup para sahabat. Tidak boleh terjebak dalam pengakuan/ dakwaan, karena ukurannya bukan nama, namun sesuai atau tidaknya jalan hidupnya dengan petunjuk Rasulullah dan para shahabat.

Menurut pandangan Ahlus Sunnah, merupakan sesuatu yang muhdats (baru, mengada-ada) jika memahami al-Quran dan as-Sunnah dengan pemahaman filsafat, atau dalam istilah ummat populer dengan sebutan Ilmu Kalam. Bahkan dalam banyak buku (yang dikarang oleh pengaku ahlus sunnah juga) di zaman ini mengistilahkan pembahasan Aqidah dengan nama Ilmu Kalam. Padahal ulama-ulama Ahlus Sunnah berlepas diri dari mutakallimin (ahli kalam), dan mutakallimin pun membenci para ulama yang mereka sebut sebagai kalangan bayani. Seperti halnya pernyataan al-Kindi dalam Filsafat Pertama.

Terdapat dua manhaj yang ditempuh dalam memahami masalah Aqidah, yakni manhaj qur’ani dan manhaj falsafi (dikutip dari Khalid Abdurrahman al-Ik). Kedua manhaj ini saling bertentangan. Manhaj Qur’ani Nabawi mendahulukan nash diatas akal, akal tunduk kepada nash. Sedangkan manhaj falsafi aqlani yang ditempuh oleh ahli kalam merupakan manhaj yang ruwet dan berliku-liku.

Manhaj falsafi merupakan serapan dari metode-metode kufur Yunani. Mutakallimin menjadikan akal berdiri sendiri dan mencukupkan bagi dirinya akal tersebut, dan bagi mereka metode filsafat adalah yang paling baik dalam menetapkan Aqidah atau yang hari ini populer disebut Theologi. Ar-Razy sendiri pada akhirnya berkata dalam kitab Aqsaamul Ladzdzat : Saya telah menelaah buku-buku ilmu kalam dan manhaj filsafat, tidaklah saya mendapatkan kepuasan padanya lalu saya memandang manhaj yang paling benar adalah manhaj Al-Qur’an

Aqidah Islamiyah bukanlah theologi dan bukan pula ilmu kalam. Istilah-istilah baru ini adalah pengistilahan yang batil terhadap aqidah islam. Penamaan ini bersumber dari manhaj falsafi dalam memahami aqidah. Aqidah Islamiyah adalah: Keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan ta’at kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari akhir, taqdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang sudah shahih tentang prinsip-prinsip agama (ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari salafush shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ salafush shalih (Shahabat, Tabiin dan Tabi’ut Tabiin).

Berikut ini adalah beberapa pendapat ulama tentang batilnya ilmu kalam, theologi dan sejenisnya :

1. Abu Hamidz Al-Ghozali berkata di awal kitabnya Al-Ihya : “Jika kamu bertanya : ‘Mengapa dalam pembagian ilmu tidak disebutkan ilmu kalam dan filsafat dan mohon dijelaskan apakah keduanya itu tercela atau terpuji ?’ maka ketahuilah hasil yang dimiliki ilmu kalam dalam pembatasan dalil-dalil yang bermanfaat, telah dimiliki oleh Al-Qur’an dan Hadits (Al-Akhbaar) dan semua yang keluar darinya adakalanya perdebatan yang tercela dan ini termasuk kebid’ahan dan adakalanya kekacauan karena kontradiksi kelompok-kelompok dan berpanjang lebar menukil pendapat-pendapat yang kebanyakan adalah perkataan sia-sia dan ingauan yang dicela oleh tabiat manusia dan ditolak oleh pendengaran dan sebagiannya pembahasan yang sama sekali tidak berhubungan dengan agama dan tidak ada sedikitpun terjadi di zaman pertama…(dan seterusnya)

2. Ibnu Katsir berkata dalam Al Bidayah wan Nihayah 11/69 ketika membeberkan kejadian-kejadian pada tahun 279H: “Dalam tahun ini diumumkan tentang terlarangnya penjualan buku-buku filsafat, ilmu kalam dan debat. Itu merupakan keinginan Abul Abbas Al Mu’tadhid, penguasa Islam.”

3. Hafizhuddin bin Muhammad yang terkenal dengan sebutan al-Kardiry (wafat 872H) menceritakan bahwa Amirul Mu’minin Umar bin Khattab mencukupkan khazanah ilmu hanya dengan kitabullah dan sunnah ketika Amr bin Ash bertanya mengenai buku-buku filsafat yang ia dapatkan di Alexandria. Bahkan Umar memerintahkan untuk membakarnya karena banyak kontradiksi dengan risalah.

Masuknya filsafat Yunani ke dalam pemahaman aqidah sebagian ummat Islam, terutama dari kalangan Mu’tazilah dan Mutakallimin adalah indikasi kekalahan golongan tersebut dalam perang ideologi. Abu Zahrah berkata: “Mu’tazilah merupakan sampah dari ghazwul fikr ini, di mana manhaj mereka yang salah terwujud dalam menjadikan akal sebagai penentu dalam segala hal. Mereka berlandaskan kepada hal-hal yang masuk akal saja dalam studi mereka terhadap masalah aqidah. Setiap masalah mereka ketengahkan/ujicoba dengan akal. Apa yang diterima akal mereka terima dan apa yang ditolak akal mereka tolak.”

Rasulullah sendiri telah berwasiat kepada kaum muslimin agar tidak mengikuti jalan umat-umat terdahulu yang telah gagal. Seperti halnya kaum nasrani yang menggunakan metode filsafat Yunani dalam penafsiran bible, atau yang masyhur dikenal sebagai Hermeneutika. Berikut hadits riwayat Abu Said al-Khudri RA, ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda, “Sungguh kamu sekalian akan mengikuti sunah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga walaupun mereka masuk ke dalam sarang biawak kamu sekalian pun akan mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah! Orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Beliau menjawab: Lalu siapa lagi selain mereka.” (Shahih Muslim No.4822)

Meninggalkan filsafat dan menundukkan akal di bawah nash dalam memahami agama Islam bukan merupakan kejumudan. Meletakkan nash sebagai sandaran pijakan berarti mengikuti wasiat Rasulullah untuk berpegang teguh dengan pemahaman beliau, pemahaman Shahabat serta ulama terdahulu yang mengikuti mereka. Hal ini juga mengikuti wasiat Rasulullah tentang larangan bagi kita untuk mengikuti sunnah umat-umat terdahulu yang telah menemui kegagalan. Juga dengan wafatnya Rasulullah, maka berarti telah cukup pula syariat yang dibawa, sebagaimana halnya dalam surat al-Maidah ayat 3 : Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Hendaknya ummat Islam berhati-hati dalam mempelajari filsafat. Untuk mencari ajaran-ajaran bijak (wisdom), pendahulu kita yang shalih telah mewariskan pemahaman yang bersandar pada nash dan hal tersebut adalah qath’i. Filsafat adalah produk budaya jahiliyah yang menafikan religiusitas dalam pola berpikirnya. Socrates, Aristoteles dan pengikut-pengikut mereka dari fase modern adalah kaum jahiliyah yang bahkan telah meninggalkan konsep ketuhanan mereka sendiri. Sehingga filsafat bukanlah solusi dalam memahami Islam dan tidak untuk diterapkan dalam aqidah.

Sumber :

1.Al-Qur’anul Karim
2. Software Ringkasan Shahih Bukhari dan Shahih Muslim    (al-jihads.blogspot.com)
3. http://annajahsolo.wordpress.com/2010/05/01/mutazilah/
4. http://ainuamri.wordpress.com/2009/02/14/filsafat-islam-filsafat-menurut-pandangan-para-ulama-hubungan-antara-filsafat-dengan-ajaran-agama-islam-ilmu-filsafat-diharamkan-oleh-para-ulama-dan-dianggap-ilmu-sesat-pandangan-islam-terhada/
5. http://abuzubair.files.wordpress.com/2008/02/pokok-pokok-manhaj-salaf.pdf
6. http://adhimgoblog.com/religi-islam/latar-belakang-ilmu-kalam/
7. http://www.almanhaj.or.id/content/1191/slash/0
8. http://www.voa-islam.com/islamia/aqidah/2010/02/08/2584/perbedaan-ahli-tauhid-dengan-musyrik-(1/
9. http://id.shvoong.com/social-sciences/1841059-aqidah-dan-salaf/
10. http://islamic.xtgem.com/ibnuisafiles/info/realy/SMuslim/smuslim09.htm
11. http://www.abbcenter.org/index.php?option=com_content&view=article&id=69:memahami-ahlussunnah-wal-jamaah&catid=23:aqidah&Itemid=62
12. Jawwas, Yazid Abdul Qadir. 2008. Prinsip Dasar Islam.Bogor, Pustaka at-Taqwa

5 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Dukung dakwah dengan memasang banner millah-ibrahim.com
    Klik sini
    http://millah-ibrahim.com/berita/114-dukung-dakwah-kami

    Visit our website
    http://www.millah-ibrahim.com
    ditunggu kedatangannya

  2. Al-Hamdulillah banyak artikel yang masih mengingatkan ummat tentang akidah. Lama juga saya tidak menulis dan membaca tentang Islam.

  3. Imam Ahmad (Imam Mazhab/murid Imam Syafi’i) berkata, “Bagi Syafi‘i jika telah yakin dengan keshahihan sebuah hadits, maka dia akan menyampaikannya. Dan perilaku yang terbaik adalah dia tidak tertarik sama sekali dengan ILMU KALAM, dan lebih tertarik kepada fiqih.”
    Imam Syafi ‘i (Imam Mazhab/murid Imam Malik) berkata, “Tidak ada yang lebih aku benci daripada ILMU KALAM dan ahlinya.”
    Al-Mazani berkata, “Merupakan madzhab Imam Syafi‘i membenci kesibukan dalam ILMU KALAM. Beliau melarang kami sibuk dalam ilmu kalam.”
    Imam Syafi’i berkata, “Setiap orang yang berbicara (mutakallim) dengan bersumber dari Al-quran dan sunnah, maka ucapannya adalah benar, tetapi jika dari selain keduanya, maka ucapannya hanyalah igauan belaka.”
    Ketidaksukaan Imam Syafi’i sampai pada tingkat memberi fatwa bahwa hukum bagi AHLI ILMU KALAM adalah dipukul dengan pelepah kurma, lalu dinaikkan ke atas punggung unta dan digiring berkeliling di antara kabilah-kabilah dengan mengumumkan bahwa itu adalah hukuman bagi orang yang meninggalkan Alquran dan Sunnah dan memilih ilmu kalam. (Sumber: Al-Umm oleh imam Syafi’i, Siyar A’lam An-Nubala’ oleh Adz-Dzahabi, Manhaj Aqidah Imam Syafi’i)

    Adz-Dzahabi (ahli hadits/salah satu guru Ibnu Katsir/salah satu murid Ibnu Taimiyah) berkata tentang Imam Ad-Daraquthny : “Beliau adalah orang yang tidak akan pernah ikut serta mempelajari ILMU KALAM dan tidak pula ilmu jidal dan beliau tidak pernah mendalami ilmu tersebut bahkan beliau adalah seorang salafy. (Siyar A’lam An-Nubala`jilid 16 hal.457)

    Adz-Dzahabi berkata: “Dan apabila anda melihat orang AHLI KALAM dan ahli bid’ah berkata: “Jauhkanlah kami dari Al Quran dan hadits ahad dan tunjukkanlah (kepada kami) akal” maka ketahuilah bahwasanya ia adalah Abu Jahal. Dan Apabila anda melihat orang menjalani jalan keesaan (yaitu orang yang sufi melenceng-pent) berkata: “Jauhkanlah kami dari dalil-dalil naqli dan dalil-dalil dari akal dan berilah kami perasaan”, maka ketahuilah bahwasanya ia adalah iblis yang telah menampakkan dirinya dalam rupa manusia atau ia telah menyatu ke dalam dirinya, jika kamu takut maka menjauhlah darinya, kalau tidak maka pukullah ia dan peganglah dadanya dan bacakanlah ayat kursi lalu cekiklah ia”. (Siyar A’lam An-Nubala’ 4/472)

  4. Imam Ahmad (Imam Mazhab/murid Imam Syafi’i) berkata, “Bagi Syafi‘i jika telah yakin dengan keshahihan sebuah hadits, maka dia akan menyampaikannya. Dan perilaku yang terbaik adalah dia tidak tertarik sama sekali dengan ILMU KALAM, dan lebih tertarik kepada fiqih.”
    Imam Syafi ‘i (Imam Mazhab/murid Imam Malik) berkata, “Tidak ada yang lebih aku benci daripada ILMU KALAM dan ahlinya.”
    Al-Mazani berkata, “Merupakan madzhab Imam Syafi‘i membenci kesibukan dalam ILMU KALAM. Beliau melarang kami sibuk dalam ilmu kalam.”
    Imam Syafi’i berkata, “Setiap orang yang berbicara (mutakallim) dengan bersumber dari Al-quran dan sunnah, maka ucapannya adalah benar, tetapi jika dari selain keduanya, maka ucapannya hanyalah igauan belaka.”
    Ketidaksukaan Imam Syafi’i sampai pada tingkat memberi fatwa bahwa hukum bagi AHLI ILMU KALAM adalah dipukul dengan pelepah kurma, lalu dinaikkan ke atas punggung unta dan digiring berkeliling di antara kabilah-kabilah dengan mengumumkan bahwa itu adalah hukuman bagi orang yang meninggalkan Alquran dan Sunnah dan memilih ilmu kalam. (Sumber: Al-Umm oleh imam Syafi’i, Siyar A’lam An-Nubala’ oleh Adz-Dzahabi, Manhaj Aqidah Imam Syafi’i)

    Adz-Dzahabi (ahli hadits/salah satu guru Ibnu Katsir/salah satu murid Ibnu Taimiyah) berkata tentang Imam Ad-Daraquthny : “Beliau adalah orang yang tidak akan pernah ikut serta mempelajari ILMU KALAM dan tidak pula ilmu jidal dan beliau tidak pernah mendalami ilmu tersebut bahkan beliau adalah seorang salafy. (Siyar A’lam An-Nubala`jilid 16 hal.457)

    Adz-Dzahabi berkata: “Dan apabila anda melihat orang AHLI KALAM dan ahli bid’ah berkata: “Jauhkanlah kami dari Al Quran dan hadits ahad dan tunjukkanlah (kepada kami) akal” maka ketahuilah bahwasanya ia adalah Abu Jahal. Dan Apabila anda melihat orang menjalani jalan keesaan (yaitu orang yang sufi melenceng-pent) berkata: “Jauhkanlah kami dari dalil-dalil naqli dan dalil-dalil dari akal dan berilah kami perasaan”, maka ketahuilah bahwasanya ia adalah iblis yang telah menampakkan dirinya dalam rupa manusia atau ia telah menyatu ke dalam dirinya, jika kamu takut maka menjauhlah darinya, kalau tidak maka pukullah ia dan peganglah dadanya dan bacakanlah ayat kursi lalu cekiklah ia”. (Siyar A’lam An-Nubala’ 4/472)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: