Empat Masalah

January 30, 2010 at 4:52 am | Posted in islam, jihadi | 2 Comments

(sebuah tulisan yang pernah di terbitkan pada sebuah bulletin pada 1 atau 2 tahun lalu)

Sesungguhnya hidup manusia itu selalu dihiasi oleh masalah. Tidak ada makhluk yang bernyawa, melainkan selalu dihinggapi oleh masalah. Masalah bisa jadi dapat dianalogikan seperti rizki. Seperti halnya rizki, seseorang yang sudah tidak lagi mendapat “jatah” masalah dalam kesehariannya mungkin telah mencapai ajalnya. Sebenarnya dalam menyelesaikan suatu masalah, Allah juga akan menyertakan solusinya, tergantung seberapa besar doa dan usaha yang  dikeluarkan.

Sebagai seorang yang telah diberi nikmat iman dan islam, kaum muslimin telah diwajibkan untuk mempelajari masalah-masalah. Dengan mempelajari masalah-masalah tersebut diharapkan agar kaum muslimin mampu untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Seorang ulama besar dari Jazirah Arab, Fadhillatus Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin telah berwasiat kepada segenap kaum muslimin untuk mempelajari beberapa masalah. Beliau berwasiat bahwasanya telah diwajibkan bagi kaum muslimin untuk mempelajari Ilmu, mengamalkan ilmu, mendakwahkan ilmu, serta besabar atas gangguan yang diperoleh selama proses pendakwahan ilmu.

Sebagai mana diterangkan dalam surat Al-Ashr; Demi masa.(1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,(2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.(3)(QS Al-Ashr;1-3)

Menurut Imam Syafii, surat Al-Ashr ini adalah surat yang sangat urgen dalam kehidupan kaum muslimin. Surat ini sudah cukup untuk menjelaskan pokok-pokok permasalahan yang harus dan wajib untuk diketahui setiap kaum muslimin.

Dalam ayat kedua surat ini disebutkan bahwa seluruh ummat manusia ini berada dalam kerugian. Kemudian manusia diberi solusi untuk menghilangkan kerugian dalam hidup pada ayat ketiga. Dijelaskan bahwasanya hanya orang yang berkarakter tertentu sajalah yang kehidupannya beruntung. Karakter tersebut antara lain adalah orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati untuk berbuat baik dan saling menasihati dalam kesabaran.

Menurut ulama, empat karakter tersebut dapat ditafsirkan sebagai orang yang berilmu, mengamalkan ilmu, mendakwahkannya, serta bersabar dalam dakwah. Dalam hal ini iman diistilahkan sebagai ilmu. Karena salah satu makna dari iman sendiri adalah ilmu. Berikut ini akan dijelaskan poin-poin penting mengenai empat hal yang telah disebutkan diatas.

Mengenai Ilmu; Menurut Syaikh Utsaimin, ada ilmu-ilmu yang sangat disyariatkan oleh islam untuk mempelajarinya. Ilmu-ilmu tersebut adalah Ilmu mengenal Allah, Ilmu mengenal Rasulullah, serta Ilmu mengenal dinul Islam, dan kesemuanya harus berdasarkan dalil-dalil yang kuat lagi shahih.

Ilmu-ilmu inilah yang harus dijunjung diatas ilmu-ilmu yang lain. Sebab dengan ilmu-ilmu inilah umat akan mendapatkan keuntungan yang hakiki. Umat islam tidak boleh menganggap remeh mengenai ilmu-ilmu ini. Di dalam ilmu yang semacam ini, yang didalamnya terkandung tauhid yang merupakan intisari diutusnya para nabi. Tauhid, yang dengannya pula berliter-liter darah syuhada mengalir dengan wanginya, dan dengannya pula banyak dai yang harus mendekam dibalik terali besi kepunyaan penguasa yang kufur lagi lalim.

Banyak yang harus dibenahi dari pemahaman kaum muslimin mengenai ilmu-ilmu ini. Seperti pemahaman mengenai macam-macam tauhid untuk Allah. Dikalangan luas masih banyak beredar pembahasan tauhid kepada Allah yang batil dan tercampur ideologi yang rusak. Padahal bagaimana mungkin manusia akan mengibadahi-Nya dengan niat dan cara yang benar sedangkan orang itu sendiri belum mengenal Dzat-Nya dengan benar? Dengan mengenal Allah dengan benar insyaallah kaum muslimin akan paham dengan syari’at dan hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan, dan apabila manusia cinta kepada Allah tentunya dia akan menerima seluruh syariat-Nya dengan lapang dada.

Oleh sebab itu, hal yang seharusnya menjadi prioritas dakwah para da’i adalah tauhid. Meskipun dakwah tauhid sendiri tidak boleh menghalangi dakwah furu’iyah, akan tetapi dakwah tauhid harus menempati prioritas yang tertinggi diantara dakwah-dakwah lainnya. Hal ini disebabkan karena hati akan tunduk dan mudah untuk menerima dan melaksanakan dinul islam jika telah terisi oleh tauhid yang shahih.

Selain mengenal Allah sebagai rabb, ilmu yang wajib dipelajari adalah ilmu yang mengenalkan kepada Rasulullah Muhammad saw.  Syaikh Utsaimin mengatakan bahwasanya jika seseorang telah mengenal kepribadian Rasulullah, maka dia akan mudah untuk menerima petunjuk dan pedoman dari beliau, berupa hadits-hadits shahih. Baik yang mutawatir maupun yang ahad, dalam masalah pokok maupun cabang.

Masih ada lagi satu macam ilmu yang diwajibkan kepada umat isalm selain kedua ilmu diatas. Ilmu tersebut adalah ilmu mengenal dinul islam. Din adalah sekelompok aturan serta norma yang serba lengkap yang mengatur keseharian umat manusia. Jadi islam bukanlah sekedar agama saja. Islam adalah konsep kenegaraan, kepemimpinan, militer, tatanegara, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu sangat penting bagi umat islam untuk mengenali din.

Sesungguhnya pengertian dienul islam itu sendiri adalah : ”Beribadah kepada Allah dengan syariah yang telah ditetapkan-Nya dalam al-Qur’an dan as-Sunnah sejak Allah menggutus Rasul hingga kiamat kelak”. Jadi Islam telah ada sejak diutusnya para Rasul yang terdahulu, dan tidak akan berhenti berlaku hingga hari kiamat, meskipun arti islam secara khusus sendiri adalah syariah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw sejak diutus.

Dalam mencari ilmu hendaknya dipilih dalil-dalil yang telah digariskan oleh para ulama pewaris nabi-nabi. Dalil dibagi menjadi dua macam. Yang pertama adalah dalil sam’iy. Dalil sam’iy itu sendiri meliputi nash-nash dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jika tidak mendapati dalil sam’iy, maka dapat digunakan jenis dalil yang kedua, yakni dalil aqly. Yang dimaksud dengan dalil aqly adalah pemikiran bersama atau ijma’ para ulama. Sebagai seorang muslim yang baik, hendaknya mengikuti aturan yang berlaku dalam pengambilan dalil yakni mengedepankan dalil sam’iy kemudian baru dalil aqly. Dalam memahami dalil sam’iy pun harus digunakan metode serta penafsiran yang digunakan oleh para salafusshalih serta para ulama’ yang sejalan dengan mereka.

Mengenai mengamalkan ilmu; Mengamalkan ilmu yang dipelajari adalah sebuah konsekuensi. Setelah mempelajari suatu ilmu, adalah konsekuensi bagi kaum muslimin untuk mengamalkannya sebelum perkataan dan perbuatan. Pengamalan ini mencakup ibadah khusus seperti shalat, puasa, dan haji, serta mencakup ibadah umum seperti  jihad (berperang) fi sabilillah, dan hisbah (amar ma’ruf dan nahi munkar).

Mengenai mendakwahkan ilmu; Jika telah diterima suatu ilmu, dan telah diamalkan ilmu tersebut, maka telah tiba gilirannya bagi seseorang untuk mendakwahkannya. Seperti dalam surat As-Shaff ayat dua berikut ini;

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? (As-Shaff:2)

Pengamalan sebuah materi dakwah adalah hal yang seharusnya dilakukan sebelum mendakwahkannya.

Dakwah adalah sebuah metode bagi umat islam untuk mencegah hal-hal yang buruk. Sebagaimana diterangkan dalam surat Yusuf ayat 53; Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan. Oleh sebab itu diperlukan dakwah yang lemah lembut agar hati para manusia mudah menerima dakwah tersebut. Sebab dakwah yang kasar hanya akan memalingkan sasaran dakwah untuk lari dan menjauh dari kebenaran.

Seperti halnya sabda Rasulullah saw berikut ini; “Sesungguhnya tidaklah kelemahlembutan itu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya. Dan tidaklah kelemah-lembutan itu tercabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya menjadi jelek.” (HR Muslim). Seruan untuk dakwah lemah lembut juga disebutkan dalam kitabullah; “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan mauidzoh hasanah (pelajaran yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Namun untuk berdakwah harus mengikuti sunnah Rasulullah yang telah diajarkan oleh para ulama. Jangan hanya karena mengejar sasaran dakwah kaidah-kaidah syar’i diabaikan. Sebab keberhasilan suatu dakwah bukanlah dinilai dari jumlah sasaran dakwah, namun apakah dakwah itu telah sesuai prosedur syar’i atau tidak. Kewajiban umat hanyalah untuk berdakwah sesuai tuntunan syar’i, akan tetapi hasil dakwah hanya Allah yang menentukan.

Bersabar atas gangguan dalam dakwah; Dakwah yang dilakukan dengan materi islam dan dengan cara yang syar’i akan mendapat banyak gangguan. Seringkali untuk menghindari gangguan, sekelompok kaum berdakwah dengan cara yang tidak memperhatikan kaidah syar’i. Padahal salah satu kewajiban kaum muslimin adalah bersabar dengan metode dakwah syar’i, meskipun ada banyak gangguan di dalamnya. Sabar yang dimaksud dalam hal ini antara lain adalah sabar dalam menaati perintah Allah dan sunnah Rasulullah, sabar dalam menjauhi maksiat dan sabar dalam menjalani taqdir.

Inilah wasiat-wasiat beliau yang wajib dilaksanakan oleh umat. Wallahu a’lamu bisshawab. (sksd)

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. webmu kok sepi al?

    • lagi wae digae kok… tur isih jarang nulis…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: