Serba-serbi Bangsa Han (Etnis Pribumi Peradaban Lembah Hoang-Ho)

January 9, 2010 at 8:41 pm | Posted in islam, jihadi, sejarah, umum | Leave a comment

Sepertinya bangsa Han merupakan salah satu bangsa yang ditakdirkan menjadi bangsa dominan di muka bumi ini oleh Allah. Di luar religiusitas mereka yang rata-rata tidak mengenal iman, Allah memberikan karunia yang sangat banyak untuk mereka, dari kekuatan ekonomi yang bombastis sampai ke wilayah seni dan ideologi yang mengakar sampai ke belahan kebudayaan barat. Negara-negara yang didirikan oleh etnis yang kini bernama etnis Han telah berdiri setidaknya 2000 tahun sebelum masehi dan semakin mendominasi wilayah sekitar lembah sungai kuning sejak awal abad pertama masehi.

Tinjauan Genetis

Suku bangsa Han adalah sebuah etnis yang menjadi mayoritas di negara-negara seperti Republik Rakyat Cina, Hongkong dan Republik Cina (Taiwan). Bahkan negara maju di luar Asia Timur, seperti Singapura, mayoritasnya merupakan etnis Han. Secara genetis etnis Han merupakan bagian dari ras Sino-Mongoloid yang mendiami sebagian besar wilayah Asia Timur. Ras Sino-Mongoloid berbeda dengan ras Malayan-Mongoloid yang mendiami Asia Tanggara. Mata orang Asia Tenggara lebih lebar dan kulitnya lebih gelap.

Tinjauan Sejarah

Nama Han berasal dari sebuah dinasti yang didirikan oleh Liu Bang pada sekitar 200 tahun sebelum masehi. Dinasti itu merupakan negara nasional imperialis kedua dari peradaban lembah sungai Hoang Ho setelah dinasti Qin. Nama dinasti ini akhirnya diklaim oleh mereka para penduduk yang berafiliasi secara historis dengan peradaban tersebut. Sebelum dinasti Zhou yang berdiri pada 1000 SM, dinasti-dinasti yang ada tidak lebih dari afiliasi-afiliasi yang kuat antara beberapa klan dan suku tertentu. Namun sejak berdirinya negara Zhou, corak kesukuan tersebut hilang dan berubah menjadi feodalisme.

Beberapa negara besar yang pernah didirikan oleh bangsa Han di wilayah peradaban sungai Hoang Ho antara lain :

  1. Kerajaan Dinasti Qin (Abad 3 SM)
  2. Kerajaan Dinasti Han (Abad 2 SM-3 M)
  3. Kerajaan Dinasti Tang (Abad 7-10 M)
  4. Kerajaan Dinasti Song (Abad 10-13 M)
  5. Kerajaan Dinasti Ming (Abad 14-17 M)
  6. Republik Rakyat Cina (Abad 20 -….M)

Tinjauan Politis dan Akidah

Etnis Han merupakan sebuah etnis yang bekerja keras, bukan berkarakter slave. Sehingga dalam sepanjang sejarah mereka, prestasi politik dan kekuasaan mereka cukup gemilang. Mereka sanggup menguasai beberapa suku-suku asing yang dahulunya sempat menjadi pengganggu mereka. Daerah-daerah Manchuria dan sekitar gurun Gobi yang notabene bukan daerah suku Han pernah dikuasai berkat kerja keras.

Namun adakalanya keberhasilan mereka mengundang kecemburuan dari suku-suku nomaden tertentu. Sehingga ketika moralitas bangsa Han sedang merosot, suku-suku seperti Khitan, Jurchen, Mongol dan Manchu sanggup menjadi penguasa di beberapa daerah bangsa Han. Bahkan bangsa Manchu pernah mendirikan dinasti terbesar yang pernah ada di Asia Timur, yakni kerajaan Qing, dari Abad 17 sampai 19 masehi. Wilayah RRC saat ini adalah cerminan Imperium Qing di masa lampau.

Kebanyakan etnis Han menganut falsafah Konghucu sebagai landasan hidup mereka. Adapun beberapa falsafah lain yang dianut mereka adalah Tao dan Buddhisme. Sehingga secara realitas, diluar keberadaan beberapa dewa-dewi keberuntungan mereka, watak ketuhanan bangsa Han adalah atheis. Sehingga sangat cocok bagi beberapa kalangan terpelajar etnis Han untuk menerima ideologi-ideologi semacam Komunis dan Liberalis. Ada juga kalangan eks-etnis Han yang telah berasimilasi dengan kebudayaan Persia dan memeluk Islam. Mereka lebih lazim disebut dengan etnis Hui. Corak keislaman suku Hui dibumbui oleh banyak unsur Konfusianisme.

Etnis Han Saat Ini (Problema Uighur)

Saat ini di RRC etnis Han merupakan pemegang tampuk kekuasan. Corak kehidupan etnis Han pun sudah berubah drastis. Sebagai dampak kolonialisme dan globalisasi, orang-orang Han cederung bersifat materialistis. Komunisme yang ditanam secara kaffah oleh Mao Zedong kini secara drastis telah berubah menjadi kapitalisme terpusat yang oportunistis. Sebab pemerintah Han mempertahankan komunisme sebagai tameng pertahanan kekuasaan yang terbatas untuk golongan tertentu, namun mengadopsi sistem pasar Liberal untuk meraup kenikmatan duniawi yang sebesar-besarnya.

Banyak yang telah menjadi korban dari kejahatan pemerintah Han RRC. Diantaranya adalah suku-suku Turkistan di provinsi Xinjiang. Karena kerakusan dan ketamakan kaum Han komunis, sebuah negara Turkistan yang telah didirikan pada tahun 1940-an dianeksasi oleh kader-kader pemerintahan komunis Cina. Bahkan hingga kini, lebih dari 20.000 muslim Uighur telah dibantai untuk terus mempertahankan kekuasaan di daerah kaya energi tersebut.

Dalam beberapa dekade terakhir pemerintahan RRC mengembangkan sistem ekonomi berbasis liberalisme. Momentum ini dimulai dari berkuasanya Deng Xiaoping sebagai pemimpin tertinggi di negeri itu pada pertengahan dekade 70-an. Banyak warga Han yang dikirim secara invasif ke daerah-daerah tertentu untuk menyeimbangkan perkembangan ekonomi. Salah satu daerah yang dituju adalah Turkistan Timur. Daerah yang oleh kerajaan Qing dinamai dengan Xinjiang ini memiliki nilai yang penting di mata kekuasaan. Sebab Turkistan Timur memiliki cadangan energi yang tinggi serta memiliki bargaining position yang tinggi sebagai wilayah perbatasan. Etnis Han dimigrasikan secara besar-besaran ke daerah ini.

Perpindahan etnis Han ini sangat kental dengan nuansa oportunisme. Untuk mempertahankan kekuasaan, diberikan kebijakan-kebijakan yang timpang antara etnis Han dan Uighur di daerah ini. Kebijakan-kebijakan ekonomi, perburuhan, pendidikan dan yang lain-lainnya lebih berpihak pada etnis Han yang terus menerus menggerus populasi dan identitas suku Uighur. Kalangan Uighur dipaksa secara brutal untuk menerima sistem kebudayaan ala pemerintah.

Banyak pula diantara mereka yang dipaksa pindah ke daerah lain untuk mengruangi populasi dan identitas ighur. Hak-hak keislaman Uighur seperti khutbah jum’at, haji, dan majelis ta’lim diatur dan dibatasi oleh pemerintah komunis. Hingga akhirnya pasca perang Afghanistan-Rusia, banyak pemuda-pemuda Uighur yang sadar akan nasibnya. Mereka mulai melancarkan gerakan-gerakan separatis demi kembalinya hak-hak mereka yang dirampas oleh penguasa dan etnis Han.

Penguasa Han : Belajarlah dari Sejarah

Sejak dahulu orang-orang Han merupakan politikus-politikus yang piawai. Negarawan-negarawan besar yang idenya diadopsi oleh peradaban barat banyak lahir dari rahim perempuan-perempuan Han. Dari negarawan-negarawan ini lahirlah kerajaan-kerajaan yang namanya menggetarkan dunia. Bahkan tidak sedikit dari penguasa kerajaan Tiongkok yang berasal dari suku-suku nomaden memanfaatkan kejeniusan bangsa Han yang berkhianat untuk menguasai seluruh Tiongkok. Dinasti Qing yang kekuasaannya membentang dari Taiwan ke Turkistan tersebut memanfaatkan kekuatan jenderal petani Li Zicheng untuk menganeksasi kota Beijing.

Sejarah mencatat kegemilangan bangsa Han berputar seperti roda nasib yang mampu menjungkalkan sistem sosial mereka dari kondisi puncak ke kondisi dasar. Ketika dinasti-dinasti di Tiongkok mencapai puncak kejayaannya, para penguasanya terjebak dalam tatanan sosial feodalis yang menguntungkan pejabat korup dan menindas rakyat lemah. Bahkan tidak jarang dinasti-dinasti tersebut menjadi bulan-bulanan bangsa asing yang ingin menguasai Tiongkok. Contoh ini terjadi pada zaman dinasti Song yang kekuasaannya dirongrong oleh suku-suku seperti Khitan (dinasti Liao), Jurchen (Dinasti Jin), sebelum akhirnya runtuh dibawah telapak kaki bangsa Mongol yang mengganti dinasti Song dengan dinasti Yuan.

Selama seratus tahun lebih orang Mongol dengan dinasti Yuan berhasil menguasai bangsa Han dari abad 13 hingga 14 masehi. Setelah itu bangsa Mongol semakin melemah sebelum akhirnya Zhu Yuanzhang berhasil memberontak dan mendirikan negara Han yang baru, yakni Negara Ming. Pada awalnya Negara Ming ini didirikan oleh Zhu Yuanzhang untuk membela kepentingan para petani yang tertindas oleh tuan tanah yang feodalis. Akan tetapi secara perlahan dinasti Ming berubah kembali menjadi negara feodalis, sehingga para petani memberontak pada tahun 1644 dan memberi jalan bagi bangsa Manchu untuk berkuasa di Tiongkok dan membentuk dinasti Qing

Ternyata dari sekian banyak dinasti-dinasti yang berkuasa di Cina, dinasti Qinglah yang memiliki kekuasaan terbesar. Pada zaman kaisar Kangxi kekuasaan negeri Qing meliputi Taiwan hingga ke Asia Tengah. Hingga pada suatu saat kemunduran moral penguasa dan rakyat, disertai dengan semangat kolonialisme bangsa Eropalah yang membuat aktivitas para intelektual Han kembali mewarnai perpolitikan Cina sejak awal abad ke 20. Hal ini ditandai dengan beralihnya kekuasaan kaisar boneka Henry Pu Yi ke tangan Yuan Shi-Kai berkat campur tangan Dr Sun Yat-Sen dengan partai Kuomintangnya.

Dengan sejarah yang bergolak-golak ini hendaknya penguasa RRC dan bangsa Han kembali belajar bahwasanya kemajuan ekonomi dan intelektual yang disertai dengan penindasan tidak membawa kejayaan. Negara Song adalah negara feodal dengan tingkat kejayaan ekonomi yang maju. Penemuan-penemuan ekonomi dan teknologi banyak terjadi pada masa ini, salah satunya adalah uang kertas. Akan tetapi negara ini menjadi bulan-bulanan suku-suku tetangga. Salah satu sebabnya kemungkinan besar adalah kerakusan penguasa Song untuk menginvasi negeri-negeri tetangga. Sehingga bukan tidak mungkin bahwasanya keserakahan penguasa RRC dan bangsa Han akan membawa mereka kembali ke masa-masa keterpurukan.

‘Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: ‘Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu. Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain serta tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu,” (At-Taubah: 38-39).

Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Barangsiapa mati sedang ia belum berperang dan belum pernah meniatkan dirinya untuk berperang, maka ia mati di atas salah satu dari cabang kemunafikan’,” (HR Muslim (1910).

Wallahu a’lamu bisshawab

**SKSD**

Sumber :

http://en.wikipedia.org/wiki/Mongoloid_race

http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_China

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2699921

http://www.epochtimes.co.id/internasional.php?id=625

http://www.harunyahya.com/e_turkestan01.php

http://presentdanger.irc-online.org/pdf/overview/OVuighur.pdf

http://alislamu.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2107&Itemid=67

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: